You are here
Home > NULIS NULIS > Wisatawan Milenial akan Liburan di Tempat yang Itu-itu Saja karena Mereka Terlalu Lelah dengan Riset

Wisatawan Milenial akan Liburan di Tempat yang Itu-itu Saja karena Mereka Terlalu Lelah dengan Riset

Liburan selalu diawali dengan riset yang dibumbui harapan tinggi.

Kalau kamu ingin pergi liburan, awalnya tentu akan riset dulu nih, mau liburan kemana. Mulai memilih hari yang tepat, me-review banyak sekali tempat menginap.

Kamu mungkin bisa menghabiskan banyak waktu untuk melakukan riset demi sebuah liburan yang paripurna.

“Kayaknya liburan kali ini enak ke gunung gunung deh, dingin, cari kuliner, trus nongkrong di villa. Eh, atau ke pantai saja, biar bisa kumpul bareng teman- teman, seru kayaknya”

Setelah bergunjing sekian lama, akhirnya bisa memutuskan mau liburan kemana. Selanjutnya kamu akan ribet mau nginep dimana, pakai transportasi apa, dan yang paling kacau bagi cewek adalah mau pakai outfit apaan. Hedeh.

Jika kamu merasa riset itu melelahkan, kamu tidak sendirian.

Menurut TravelPulse Milenial lelah dengan riset.

Khusus untuk wisatawan Milennial, melakukan riset untuk liburan adalah hal yang sangat luar biasa merempongkan.

Menurut sebuah studi oleh Travelpulse – Hotels.com, wisatawan Milennial mengalami “ke-lemotan” atau “kegalauan maha akut” yang merupakan semacam rasa tidak enak, kebosanan, atau ketidaktertarikan yang datang dengan terus-menerus akibat melakukan riset tentang liburan.

Rata-rata, menurut penelitian, Milenial menghabiskan delapan jam untuk riset liburan mereka, tetapi mengalami “kelelahan” setelah hanya 40 menit diawal.

Sederhananya, Milennial lelah … lelah riset tentang liburan.

Akhirnya liburan di destinasi yang itu-itu saja.

Hasil penelitian yang mengejutkan adalah, ketika mereka lelah riset, milenial cenderung mengambil liburan di tempat yang sama atau pernah mereka kunjungi. Dari pada ribet.

Ada 56% milenial mengatakan bahwa mereka tidak akan mengambil cuti kerja untuk liburan yang lama dan jauh, karena takut kerjaan menumpuk setelah pulang liburan.

Wisatawan Milenial sudah punya banyak waktu untuk bekerja, dan jika mereka ingin berlibur, mereka akhirnya menjadi lelah dan membosankan untuk riset dalam merencanakan liburan. Akhirnya liburan disitu lagi, situ lagi. Bali lagi, Bali lagi.

The Power of Males riset bisa jadi peluang bagus bagi agen perjalanan wisata.

Orang Orang, Kota, Orang, Perkotaan, Wanita, Perjalanan
https://pixabay.com/id/

Selain itu, menurut TravelPulse, penelitian ini menemukan bahwa satu dari delapan wisatawan menghabiskan lebih dari 15 jam untuk meneliti sebelum liburan.

Sekitar 22% generasi Milenial mempertimbangkan sekitar 11 pilihan liburan yang berbeda. Itu cukup untuk membuat semua jenis wisatawan kewalahan sih.

Menurut data itu, 42% wisatawan Millennial menggambarkan riset liburan sebagai salah satu tantangan terbesar mereka kerika ingin liburan.

Jadi, tidak mengherankan bahwa 51% akhirnya pergi berlibur ke suatu tempat yang sudah mereka kunjungi sebelumnya hanya untuk menghindari lelah dengan riset.

Menurut penelitian, 40% bersedia membayar lebih banyak untuk liburan mereka hanya untuk menghindari ribet sama riset.

38% akan mempertimbangkan untuk lebih baik membayar atau beli paket wisata di agen perjalanan untuk milenial,

Dari sini semoga saja, kekuatan dari malas risetnya milenial semoga bisa membawa kembali kejayaan agen perjalanan.

Jadi, malaslah riset agar agan perjalanan bisa berkembang. 

 

Sumber: travelandleisure.com

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments