You are here
Home > NULIS NULIS > Thailand Berani Menutup Destinasi Wisata Populernya Untuk Memperbaiki Kerusakan oleh Wisatawan, Indonesia?

Thailand Berani Menutup Destinasi Wisata Populernya Untuk Memperbaiki Kerusakan oleh Wisatawan, Indonesia?

Pulau Phi Phi terletak di daerah Krabi, Koh Phi Phi adalah salah satu daerah terpopuler di Thailand. Ketika mengunjungi Koh Phi Phi wisatawan wajib ke atraksi paling populer di sana, yaitu Maya Bay, yang merupakan tempat terindah, dan menjadi menjadi lokasi syuting film The Beach yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio.

Beberapa bulan lalu, pada bulan Oktober, Department of National Parks – DNP, Wildlife and Plant Conservation Thailand (Departemen Taman Nasional, Satwa Liar dan Konservasi Tanaman, atau semacam departemen Taman Nasional kalau di Indonesia) menutup Maya Bay bagi wisatawan tanpa batas waktu, untuk menjaga Maya Bay dari kerusakan oleh wisatawan (weforum.org)

DNP mengatakan bahwa teluk membutuhkan banyak waktu untuk memulihkan lingkungan di sana setelah banyaknya wisatawan yang telah merusak pantai dan ekosistem lautnya.

Baca juga: Pesan Buat Anak (Gaul) Yang Suka Traveling.

Tourists pass their time as they visit Maya bay at Krabi province, Thailand May 23, 2018. REUTERS/Soe Zeya Tun - RC1CD91E4D30
Photo: REUTERS/Soe Zeya Tun

Sejak dibuka dan dikembangkan pada tahun 2000, wisatawan datang berbondong-bondong dari seluruh dunia ke tempat yang (katanya) menjadi salah satu pantai paling menakjubkan di dunia (karena belum ke Indonesia sepertinya) – dan yang terjadi di sana, lingkungan langsung merasakan dampaknya, kerusakan.

Sekitar 5000an wisatawan setiap hari.

Dari The Guardian, Direktur DNP, Songtam Suksawang mengatakan bahwa mereka telah mengevaluasi setiap bulan dan menemukan bahwa sistem ekologis dan lingkungan di sana telah rusak cukup serius dari kegiatan pariwisata yang mendatangkan sekitar 5.000an wisatawan setiap harinya (weforum.org)

Sangat susah untuk memperbaiki dan merehabilitasi kembali, karena pantainya rusak cukup parah. DNP Thailand memang tidak akan menutup untuk kegiatan pariwisata selamanya, tetapi sementara waktu akan ditututup dari wisatawan untuk menyelamatkan lingkungan pantai.

The Guardian juga melaporkan bahwa lebih dari 80% terumbu karang di sekitar Maya Bay telah hancur karena polusi dari sampah, perahu, dan tabir surya yang digunakan oleh wisatawan.

Data yang dirilis oleh DNP memperkirakan ada sekitar 2,5 juta pengunjung ke teluk pada tahun 2018 ini, jumlah yang sangat banyak.

Sumber: World Economic Forum

Belum ada kejelasan seberapa cepat pantai akan dibuka kembali. Namun, The Guardian melaporkan bahwa berdasar surat dari kerajaan Thailand yang diterbitkan oleh DNP mengumumkan bahwa pembatasan pariwisata akan tetap berlaku sampai ekosistem pulih sepenuhnya ke situasi normal lagi, waktunya? tidak terbatas, karena terumbu karang itu tumbuh hanya setengah sentimeter per tahun, mungkin harus menunggu beberapa saat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia? apakah di negara tercinta kita ini berani melakukan hal yang sama ke atraksi atau destinasi wisata populernya yang juga rusak oleh kegiatan wisatawan?

Atau tetap memilih mendapatkan uang atau dampak ekonnomi lebih banyak dari pada dampak lingkungan dengan membatasi atau menutup akses wisatawan ke suatu destinasi wisata.

Ya, di beberapa destinasi wisata sudah berani koq, seperti gunung Rinjadi, Semeru, dan beberapa gunung lainnya, tetapi masih banyak yang belum berani.

Tetapi, cepat atau lambat, Indonesia akan merasakan dampak negatif, dan salah satu keputusan terbaiknya adalah dengan menutup akses wisatawan dan kegiatan pariwisatanya, dan kembali memulihkan alamnya.

Kapan? ya kita lihat saja seberapa serius pemerintah mengembangkan dan menjaga industri pariwisatanya secara baik dan benar untuk keberlanjutan industri pariwisata yang katanya harus sustainable. Semoga tidak hanya sekedar slogan belaka. 🙂

 

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments