You are here
Home > NULIS NULIS > Penginapan-penginapan Unik, Lucu, dan Tidak Masuk Akal yang Hanya Ada di Indonesia.

Penginapan-penginapan Unik, Lucu, dan Tidak Masuk Akal yang Hanya Ada di Indonesia.

HOTEL
Liburan atau tugas keluar kota itu identik dengan penginapan, bisa hotel, losmen, atau home stay. Selalu ada keunikan didalamnya, mulai dari pelayanan, sampai ke fasilitasnya, yang kadang aneh, lucu, sampai gak masuk akal, dan mungkin hanya ada di Indonesia.
Pengalaman ini sebagian besar muncul ketika penulis masih bekerja sebagai sales sebuah perguruan tinggi di Jogja, yang membuat harus berkeliling Jawa untuk mempromosikan institusinya.
Banyak kelucuan, keanehan, sampai kedurjanaan dari setiap penginapan di kota-kota yang selalu dikunjungi.

Ditutupin pintu pagar hotel.

Ini terjadi ketika kami sore dari jogja untuk menuju sebuah kota kecil di Jawa Timur, dan sampai di kota tersebut sekitar pukul 22.00 malam, kami langsung check-in, kemudian ke tempat pameran pendidikan untuk mempersiapkan acara untuk esok harinya, dan kami makan malam, selesailah kira-kira pukul 00.30an, selanjutnya kami kembali ke penginapan.

Sampai di penginapan, pagar penginapan kami yang setinggi pagar pabrik ini sudah dikunci, digembok, dan tidak ada security di sekitar situ, kami telfon hotelnya, dan cukup lama baru terangkat, karena sudah tertidur katanya, dan sekitar pukul 01.00 dini hari kami baru masuk hotel karena baru dibukakan pagar hotelnya dengan adegan kehilangan kunci juga kala itu.

Setelah masuk si penjaga penginapannya mengatakan, di daerah situ, penginapan ketika pukul 00.00 harus menutup pagarnya agar tidak disinyalir sebagai penginapan mesum.
Duh, sialnya kami.

AC yang ternyata di dalamnya ada kipas angin.

Ketika kami dapat tugas ke kota kecil selatan Semarang, ketika sore sampai di kota tersebut kami langsung cari hotel agar cepat istirahat. Tanpa fikir panjang kami langsung membuka dua kamar, satunya pakai kipas angin saja, karena driver kami tidak bisa tidur kalau pakai AC, dan satunya pakai AC, biar cepat istirahat.

Sejam di kamar, masih nyaman, pada jam kedua koq panas, tetapi di AC angin seperti masih berhembus, karena kegundahan hati, kami ambil kursi, untuk membuka AC di depan bed kami, setelah kami buka, ya masyaallah, ternyata di dalam casing AC itu, ada kipas anginnya, pantas saja tidak dingin.

Ternyata kipas anginnya diberi casing AC, padahal harga kamarnya lumayan jauh bedanya, karena ada tambahan fasilitas AC.
Sial lagi kami.

Jangan buka pintu kamar sampai di ketuk tiga kali.

Kasus yang ini terjadi ketika kami bertandang di daerah pantura, di kota tanpa warung tegal-nya, padahal kotanya adalah Tegal.

Kota Tegal menjadi tujuan kami setelah kami dari Slawi, karena lelah kami cari saja penginapan yang ada, tanpa fikir panjang akhirnya kami memutuskan untuk menginap di hotel A, sebut saja Mawar.

Setelah makan malam, kami langsung masuk kamar, teman teman sudah tidur, saya seperti biasa masih berselancr di dunia maya. Sekitar jam 10.00 ada yang mengetuk pintu kamar kami, “oh mungkin room boy” langsung saja saya buka pintunya, dan tidak ada orang di sana, suasana menjadi mencekam. Sayapun duduk kembali, selang berapa lama, ada lagi yang mengetuk, saya masih positif, saya buka pintunya, dan tidak ada orang lagi, serta merta suasana horor mulai datang, bulu buluan mulai merinding, cepat saya tutup kembali pintu, matikan leptop saya dan masuk ke dalam selimut. Tak berapa lama, ada lagi yang mengetuk, karena takut saya langsung baca doa Bapa Kami, dan semenjak itu tak ada lagi yang mengetuk. Puji Tuhan.

Paginya, saya ceritakan hal mistis ini kepada salah satu pegawai hotel, bukannya ketakutan, dia malah ketawa terbahak, saya semakin bertanya-tanya, apakah pegawai hotel ini sudah kerasukan setannya juga. Ternyata setelah pegawai hotel itu menjelaskan saya baru paham, dan ikut tertawa terbahak, saya jadi kerasukan.

Ternyata, ketukan itu dilakukan oleh seseorang, bahkan bisa lebih, dan memang, pada ketukan pertama dan kedua dia tidak akan ada, seakan memberi kode, karena mereka pasti ada di depan pintu pada ketukan ketiga untuk memberikan surga bagi kami, kelakar pegawai hotelnya.
Owalah, koq saya polos sekali kala itu, tau gitu saya tunggu sampai ketukan ketiga, dan kami pergi ke surga bersama. *ehhh
Sialnya saya.

Password wifi yang bedebah.

Setelah dari Tegal, kami berpindah ke kota di sebelahnya kota penghasil batik, Pekalongan. Tidak ada yang aneh, semuanya biasa saja, yang sedikit aneh adalah musholanya lebih besar dari meeting room-nya, kenapa? karena hotel ini adalah hotel dari tanah wakaf, wajarlah.

Keanehannya adalah ketika saya butuh konektifitas wifi, saya ke loby dan meminta password wifi-nya, dan yang tidak saya duga password-nya sangat agamis “assalamuallaikumwarahmatullahwabarakatu” saya tidak tahu ini benar penulisannya atau tidak, tetapi saya butuh setidaknya sampai lima kali baru bisa terhubung dengan wifi-nya.

Kasus yang sama ketika saya meminta password wifi di salah satu hotel di Magelang, passcode wifi-nya terdiri dari perpaduan angka dan huruf setidaknya ada 24 karakter di dalamnya. “HK3KB5U6NBG29H5NGKDU8HDR” Seperti itu kira-kira passcode yang diberikan karyawan hotel kepada saya, dan alhasil keritinglah jari saya, dan jerenglah mata saya ktika memasukan passcode ini.
Sangat aman sekali!

Lift hotel yang hanya naik 1/2.

Ini ketika kami dapat tugas pameran pendidikan di ibukota, kami pameran selama satu minggu di mall taman anggrek, dan kami mencari hotel yang sedikit murah, akhirnya kami ke daerah daan mogot, dan dapatlah satu hotel, tampaknya keren, ada sekitar 7 lantai lah kira-kira. Itungannya hotel mewah, walau setiap pergi pagi, kami selalu bertemu dengan wanita anggun ber-rok mini di setiap lift.

Kami stay di hotel tersebut selama satu minggu full, semuanya normal, hingga pada suatu hari, kami setelah pulang dan naik ke kamar kami di lantai lima menggunakan lift seperti biasanya, ini lift koq lama banget, dan setelah indikator sampai di lantai lima, kami kaget, karena keta pintu lift terbuka, di depan mata kami adalah lantai dari hotel di level lima, dan kaki kami ada di lantai 3 (lantai empat-nya tidak ada) jadi kami harus sedikit memanjat agar bisa keluar dari lift tersebut.
Sungguh hotel durjana.

Dapat tawaran penambahan selimut.

Di kota besar di Jawa Tengah tepatnya, dekat Andang Pramana, bekas terminal di kota tersebut. Ya karena saya polos ya saya gak paham awalnya. Terjadi ketika saya jenuh di kamar, dan memilih untuk ngopi di restoran, sekalian wifi-an.

Sejam saya asik browsing, datanglah orang yang sepertinya karyawan hotel, yang secara gamblang menawarkan selimut tambahan ke saya, karena tidak paham, saya bilang saya tidak butuh selimut, karena sudah ada, dan mas dari hotelnya tanya “selimut dari mana?” ya kata saya “selimut dari hotel” “hotel mana mas? siapa yang nawarin?” kata masnya lagi, “ya hotel inilah mas, masa dari hotel tetangga?” masnya bengong, dan saya juga, kemudian dia berlalu, dan saya baru sadar, ternyata selimut yang ditawarkan itu adalah selimut yang bisa gerak-gerak.
Duh, menyesalnya saya.

Bathup yang dijadikan bak mandi.

Terjadi di salah satu kota di pulau penghasil garam di Indonesia. karena perjalanan yang jauh dari Jogja, kami langsung merujuk salah satu hotel yang direkomendasikan oleh panitia acara di sana, sampai di hotel, kami tanya-tanya dan langsung saja kami pilih dua kamar.

Bukannya kami dihantarkan langsung ke kamar, kami disuruh menunggu di loby, dan cukup lama waktunya, sampai kamu bertanya-tanya.

Selang 30an menit, ketika kami mulai emosi datanglah karyawan hotel memanggil kami untuk di bawa ke kamar kami, sampai di kamar, saya langsung ke kamar mandi, saya kaget dan langsung protes ke room boy-nya, “mas, koq ini bathupnya sudah terisi air, ini kamar belum dibersihkan ya?” masnya menjawab dengan polos “nggak mas, itu baknya baru saya isi biar kalau mandi tidak nunggu-nunggu lagi” saya bengong, saya kembali ke kamar mandi, dan memang melihat ada gayung mandi di sana, saya lemas, ternyata saya kurang belajar ketika kuliah di kampus dulu tentang fungsi lain bathup.
Luluh lantak saya.

Listrik mati (dimatikan).

Masih di pulau yang sama, tetapi kota berbeda. Kami memilih salah satu penginapan yang semuanya normal seperti biasa tanpa ada masalah. Sampai akhirnya pada malam hari, seperti biasa, saya selalu browsing, sekedar menulis atau hanya lihat gambar-gambar lucu di internet, sekitar pukul 00.00 ketika semuanya sudah terlelap, tiba-tiba padam listriknya, oh paling hanya “njegleg listriknya” guman saya, tetapi saya tunggu 15 menit, koq tidak menyala lagi, 30 menitpun tidak ada tanda-tanda, saya buka tirai jendela, gelap gulita, sementara bangunan sebelah penginapan saya lampunya terang benderang, ternyata hotel ini pelopor hotel cinta alam, sangat berwawasan lingkungan, sustainable tourism, tidak harus menunggu earth hour, mereka setiap malam selalu mematikan listrik, biar tagihan listriknya tidak membengkak.

Sungguh brilian.

Parkir mobil baru boleh setelah habis magrib atau yang punya hotel pulang.

Masih di pulau yang sama, kotanya sedikit bergeser ke timur. Setelah acara di kota satunya, kami langsung ke kota ini, sore pukul 16.00 kami langsung check-in, penginapannya cukup kecil, hanya sekitar 20an kamar, depan kamar seperti gang dan di ujung gang itu ada rumah yang konon adalah pemilih penginapan tersebut.

Biasanya, ketika check-in kami langsung memasukan mobil kami dekat kamar kami, agar ketika ambil barang-barang kami tidak jauh. Ketika sedang asik-asiknya mengambil barang, kami disamperin sama karyawan penginapannya “mas, mohon di penginapan ini, belum boleh memasukan mobil ke dalam sebelum magrib, atau sebelum si empunya hotel pulang, biar mobilnya tidak menutupi jalan ke rumah si empunya hotel, dan paginya sebelum jam 07.00 mobil harus diparkir di jalan dahulu, sampai si empunya penginapan keluar” kami bengong, terpana, dan kagum, ada ya penginapan macam ini?
Kami takjub!

Harga kamar 32.000 Rupiah, dan bisa 10.000/jam.

Terjadi sebelum kami mendapatkan hotel yang ada di cerita nomor dua di atas. Rutinitas kami ketika sampai di kota tujuan masih sore atau masih terang, kami akan mencari-cari hotel dulu, siapa tahu dapat yang mantep, dan harga murah, jadi sisa duitnya bisa dipakai untuk yang lain, walau di nota harga tetap sesuai anggaran.

Kami tertarik sama satu hotel low-profile di pinggir kota yang kelihatan ramai kendaraan roda dua. Tanpa fikir panjang, masuklah kami ke area hotel tersebut, dan tanya-tanya. Hotelnya lembab, gelap, dan ada lampu kerlap kerlip seperti di phonon natal, padahal kala itu bulan Maret, dan penginapan ini cukup kuat dalam pengambilan konsep dan temanya “horor romantis”

Kami langsung tanya harganya, dan kami terkaget-kaget, harga kamarnya permalam hanya 32.000 Rupiah, dan kami bisa bayar 10,000 Rupiah saja untuk satu jam. Ini pemberian harga atas dasar apa ini? karena kami penasaran, kami pengen showing satu kamar, ternyata semuanya full, wow, tambah takjub kami. Di tengah ketakjuban kami, ada salah satu pengguna kamar check-out, setelah check-out, si receptionis-nya langsung menawarkan apakah masih ingin melihat kamarnya? ya kami jawab saja ia, dan kami langsung diantar ke kamar yang orangnya baru check-out tadi, tanpa ada anak house keeping membersihkan kamar tersebut. Wah, kamarnya sungguh menakjubkan, kasur dari kapuk, bantal keras, dengan aroma rokok dan bau, ya gitulah.
Kami langsung pergi!

Harga kamar di lantai tiga hotel yang tanpa lift jauh lebih laku dari pada di lantai satu dengan fasilitas yang sama dengan alasan di lantai tiga pemandangannya bagus, padahal di tengah sawah.

Kami sampai di kota ini sudah tengah malam, hampir pukul 00.00, kami langsung ke hotel rujukan panitia. karena kami merasa sudah malam, kami sadar, tidak akan mungkin mendapatkan kamar di lantai bawah, karena pasti sudah terisi full. Kamipun pasrah memilih di lantai tiga, ya walau harus naik tangga ke lantai tiga, dari pada tidak dapat kamar.

Alangkah kagetnya kami, karena kamar di lantai tiga dan dua sudah full. Kamipun lemes, wah bisa tidur di mobil ini. tetapi resepsionisnya menawarkan ada empat kamar kosong di lantai satu, ya kami bingung, ini masnya bercanda? masa harga yang sama dengan fasilitas yang sama, kamar dilantai dua dan tiga sudah full di lantai satu mash ada, koq bisa?

Masnya menjelaskan “di sini, kamar di lantai atas adalah kamar favorit, karena bisa lihat kemana-mana, sementara di lantai satu jarang dipilih karena tidak ada yang bisa dilihat” Kami masih bingung, ini pola fikir dengan pola pendekatan gardu pandang, semakin tinggi semkin baik. Ya terserahlah, yang penting kami masih dapat kamar.
Aneh.

Pulang dari penginapan, salaman sama yang punya homestay sekalian keluarga-keluarganya.

Ini ketika saya liburan di pulau di utara Jepara jawa Tengah. Karena saya suka diving, saya menginap di homestay, biar murah, kerena saya akan long stay di karimunjawa.

Selama seminggu saya selalu bertemu dengan si empunya homestay, saling menyapa, bercerita, bercengkrama, berbagi ilmu, nonton bareng, sampai ngopi-ngopi sore bersama.

Karena kedekatan yang begitu baik, ketika kami akan meninggalkan homestay tersebut, kami seperti keluarga yang akan berpisah lama, suasana menjadi sedih, si pemilik homestay memanggil istrinya, anaknya, dan keluarganya, dan memberitahukan kepada mereka kalau saya sudah akan pulang ke Jogja, semuanya sedih, dan kami salam-salaman satu persatu, dan saling melambaikan tangan ketika kami pergi menggunakan mobil ke pelabuhan, dan sedikit tergenang air mata ini di pelupuk mata.
Sedih juga. 🙁

 

 

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments

Leave a Reply

Top