You are here
Home > NULIS NULIS > Pariwisata Halal Versus Pariwisata Haram Atau Pariwisata Ramah Muslim?

Pariwisata Halal Versus Pariwisata Haram Atau Pariwisata Ramah Muslim?

April 2019 kemaren, setelah lima tahun melakukan berbagai upaya dan cara, akhirnya Indonesia terpilih menjadi destinasi pariwisata halal terbaik dunia.

Penobatan tersebut diberikan langsung oleh Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 dan mengungguli 130 destinasi dari seluruh dunia. 10 besar keindahan negara wisata halal terbaik di dinua kamu bisa lihat di sini.

Lembaga pemeringkat Mastercard-Crescent menempatkan Indonesia pada peringkat pertama standar GMTI dengan skor 78, bersama dengan Malaysia yang sama-sama berada di ranking pertama.

Terlepas dari berita baik itu, sebenarnya pariwisata halal itu apa sih?

“Pariwisata halal adalah bagian dari industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan Muslim. Pelayanan wisatawan dalam pariwisata halal merujuk pada aturan-aturan Islam” (studipariwisata.com)

Contoh dari bentuk pelayanan ini misalnya hotel yang tidak menyediakan makanan ataupun minuman yang mengandung alkohol, menyediakan sajadah dan Alquran di dalam kamar hotel, menginap harus dengan pasangan yang sudah menikah, dan memiliki kolam renang serta fasilitas spa yang terpisah untuk pria dan wanita.

Selain hotel, transportasi, restoran, dan daya tarik wisata dalam industri pariwisata halal juga memakai konsep Islami. Penyedia jasa transportasi wajib memberikan kemudahan bagi wisatawan muslim dalam pelaksanaan ibadah selama perjalanan. Ada Masjid dan mushola di restoran atau Daya Tarik Wisata.

Bahkan ada naik gunung pria dan wanita dipisah, dan seterusnya.

Sesuai dengan aturan-aturan Islam.

Kalau ada pariwisata halal, terus pariwisata haram itu apa?

Dalam aturan Islam, jikan ada jenis makanan yang halal, maka yang haram tentunya ada, jika jenis minuman halal, tentunya yang yang haram juga.

Terus, kalau ada pariwisata halal, pariwisata haram itu apa?

Apakah judi, prostitusi, minuman beralkohol itu masuk di pariwisata haram? Ya tidak bisa begitu, itu masuk penyakit masyarakat, tidak ada pariwisata pun hal tersebut juga tetap bisa berjalan terus. Jadi itu bukan jenis pariwisata haram secara spesifik dan langsung.

Pariwisata haram tidak ada, kalaupun ada, namanya tidak akan “dilabelkan” begitu.

Sama seperti Cak Nun ketika mengomentari tantang Bank Syariah. Ketika ada Bank Syariah, tentu itu adalah pembaruan dari jenis bank lama. Bank syariah adalah bank yang lebih baik, kalau tidak syariah, tidak baik.

Terus, kalau tidak baik, kenapa tidak ditutup saja? kenapa tetep mash ada bank tidak syariah? Ya karena mau jualan. Kemudian tetap ada Bank tidak bersyariah yang dinamakan bank Konvensional, bukan bank yang tidak baik.

Jadi, pariwisata halal hanya “melabel” destinasi pariwisata untuk dijual kepada wisatawan dengan balutan agama?

Segitunya ya jualan destinasi pariwisata?

Pariwisata halal atau pariwisata ramah muslim?

Baru-baru ini, ketua Ikatan Cendekia Pariwisata Indonesia (ICPI) Prof Azril Azahari mengatakan bahwa:

Pariwisata halal tidak bisa sepenuhnya diterapkan di Indonesia, karena kita bukan negara dengan syariah Islam. Kalau Moslem Friendly baru bisa. Istilah pariwisata halal yang diwacanakan pemerintah kurang tepat, karena sebutan yang lebih memadai adalah “ramah muslim”

Pariwisata halal kurang tepat jika diterapkan pada destinasi wisata nusantara karena Indonesia memiliki banyak kearifan lokal dan budaya yang beragam yang sebenarnya bisa ditonjolkan untuk menarik wisatawan asing.

Kearifan lokal yang bisa menjadi daya tarik diantaranya makanan dan budaya terutama dari sepuluh destinasi baru yang dicanangkan pemerintah.

Wisatawan itu tertarik mencari hal unik yang tidak ada di negara asalnya, pengalaman itu yang mereka cari lewat budaya kita seperti tarian dan makanan yang penuh makna filosofisnya, itu atraksi utamanya.

Harus ada tujuan yang jelas ketika pemerintah mencetuskan ide pariwisata halal, jangan sampai cuma karena ikut- ikutan.

Indonesia bisa menerapkan istilah “ramah muslim” untuk menggaet pendatang yang memeluk agama Islam, yang bisa diterapkan di semua destinasi pariwisata di Indonesia.

Pariwisata Ramah Muslim

Lombok tetaplah Lombok yang berbudaya dan bermasyarakat sesuai kearifan lokal di Lombok, tetapi kemudian dikembangkan pariwisata yang ramah muslim di dalamnya.

Tetaplah Toraja yang menjalankan segala kearifan lokalnya dengan baik, dan pariwisata mengelolanya dengan pendekatan pariwisata yang ramah wisatawan muslim.

Tetaplah Indonesia yang memiliki banyak keragaman budaya, berjalanlah demikian. Selanjutnya pariwisata dikelola dan bekerja dengan baik untuk menfasilitasi kebutuhan semua jenis wisatawan, termasuk di dalamnya wisatawan muslim, dengan membuat setiap destinasi wisata bisa ramah muslim.

Tidak melabeli dengan balutan agama yang sebenarnya hanya untuk jualan.

Karena biarlah semua berjalan sesuai dengan khitahnya.

Wassalam. 🙂

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments