You are here
Home > NULIS NULIS > #OVERTOURISM Musuh Perkembangan Pariwisata Paling Berbahaya

#OVERTOURISM Musuh Perkembangan Pariwisata Paling Berbahaya

Memang masih sedikit yang membahas tentang overtourism di Indonesia, kita masih jarang mendengarnya. Kenapa? karena Indonesia masih sibuk mencari dan mendatangkan wisatawan. Sepertinya, Indonesia masih merasa kurang dengan jumlah wisatawan yang mulai semakin banyak.

Kalau kita lihat di peta #overtourism di sini, memang baru Bali dan TN Komodo di Labuan Bajo, yang masuk ke daftar destinasi pariwisata yang sudah merasakan apa itu overtourism. Di dunia, Benua Eropa yang merasakan pertama kali.

Apa sih overtourism itu?

Singkatnya, overtourism terjadi ketika ada terlalu banyak manusia ke yang datang ke destinasi pariwisata tertentu.

“Terlalu banyak” adalah istilah subyektif, tetapi bisa didefinisikan adalah, destinasi pariwisata yang menjadi tujuan bagi wisatawan lokal, mancanegara, pemilik bisnis, investor, dan semua komponen pembentuk destinasi pariwisata. Atraksi, amenitas, dan akses.

Ketika harga harga sewa kamar hotel menjadi mahal, itu adalah overtourism. Ketika jalan sempit menjadi macet dengan kendaraan pariwisata, itu adalah overtourism. Ketika satwa telah berubah perilaku, ketika wisatawan tidak dapat melihat landmark karena keramaian, ketika lingkungan yang rapuh menjadi rusak, ini semua adalah tanda-tanda dari overtourism.

Mengapa overtourism ini terjadi?

Industri pariwisata, seperti banyak industri lainnya, berfokus hampir secara eksklusif pada pertumbuhan jumlah konsumen (wisatawan), dengan sedikit atau mungkintanpa kepedulian terhadap dampaknya.

Setelah puluhan tahun pertumbuhan kunjungan wisatawan yang terus naik, ia akan melewati ambang batas: Di banyak destinasi pariwisata, sekarang secara nyata menciptakan lebih banyak masalah daripada manfaat.

Ini dapat dilihat dari banyak bentuk; Ada 10 juta wisatawan tambahan datang ke Bali, dan 5 wisatawan mengunjungi pedesaan. Bisa dibayangkan desa yang hanya dihuni puluhan ribu orang, akan menerima juataan wisatawan.

Overtourism bukan hanya masalah kota besar, di daerah hutan belantara, puncak gunung, taman bumi, dan di tempat-tempat seperti Taman Nasional Komodo, penuh dengan wisatawan.

Mengapa overtourism harus diperhatikan?

Jumlah pengunjung terus meningkat selama beberapa tahun terakhir, bahkan target wisatawan Indonesia, setiap tahunnya selalu meningkat. 20 Juta/Tahun

Overtourism itu pelan, tetapi pasti ini akan terjadi dan menjadi masalah besar dari perkembangan pariwisata. Karena pariwisata adalah industri mendatangkan wisatawan.

Sebenarnya istilah overtourism awalnya dipakai pada tahun 2012an, tetapi kala itu belum menjadi topik yang penting. Baru pada tahun 2017an, overtourism mulai mendapat perhatian, bukan terjadi peningkatan jumlah wisatawan, karena pertumbuhannya tidak terlalu drastis di setiap destinasi.

Tetapi mulai adanya feedback dari penduduk lokal yang merasa “rumah” mereka sudah semakin tidak nyaman dengan datangnya banyak orang lain (wisatawan). Barcelona, Venesia, Roma, Paris, telah merasakan itu. Mungkin Bali dan Jugja juga sudah, cuma belum ada riset mendalam tentang itu.

Masyarakat mulai menjadi antagonis terhadap wisatawan dan segala istilah pariwisata. Karena mereka merasa, panasnya kota, macetnya jalan, harga yang menjadi mahal, perubahan perilaku dan budaya, itu semua karena pariwisata.

Apa penyebab utama overtourism?

Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap overtourism, dan tentu saja ini akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.

Airbnb, OY*, Airy ro*m, dan aplikasi penjual kamar lainnya bisa digunakan dengan gampang sebagai salah satu alasannya. Di samping Online Travel Agent seperti tik*t.com, Travel*ka, PegiPe*i, dan lainnya juga.

Ada ribuan tempat tidur tiba-tiba tersedia di kota-kota besar sampai kota kecil di seluruh Indonesia, bahkan dunia, tanpa memiliki perencanaan, izin, pembuangan limbah, pengelolaan SDM, sampai ke pajak.

Pengusaha akomodasi tersebut dapat memotong harga kamar menjadi sangat murah, menjadikan liburan bisa dilakukan oleh siapa saja. Ditambah lagi dengan konsep “pembagian kamar rumah” dengan wisatawan semakin dikomersialkan, permintaan apartemen yang semakin gampang, dan indekos sewa harian yang banyak juga semakin memperparah.

Masalah lain adalah ketersediaan penerbangan murah. Ingin ke kota mana saja, dari smartphone, wisatawan bisa langsung berangkat, LCC, tidak ribet seperti sedia kala.

Satu lagi penyebab utama yang semakin memperparah.

Indikator “sukses” dalam pariwisata adalah ketika semakin banyak wisatawan yang datang dan mengunjungi sebuah destinasi pariwisata.

Tidak peduli yang datang adalah wisatawan “gembel” beban negara, wisatawan abal-abal, wisatawan tanpa motivasi jelas yang tidak menguntungkan; Intinya jumlah wisatawannya adalah yang terpenting.

Tanya saja di Dinas Pariwisata, destinasi pariwisata dianggap sukses/maju kalau apa? kalau jumlah wisatawan meningkat. Gaya lama!

Terus, bagaimana menyikapi overtourism ini?

“Shifting tourism paradigm”

Awali dengan mulai dari diri sendiri dari kamu, sebagai wisatawan.

Sun, sand, sea (3S) adalah paradigma pariwisata lama, dimana kegiatan wisata yang dilakukan wisatawan untuk menjelajah, menaklukan, dan menguasai alam, sehingga yang terjadi adalah banyaknya dampak negatif.

Serenity, sustainability, spirituality, (neo 3S) adalah paradigma pariwisata baru yang memposisikan kegiatan wisata dari wisatawan untuk berselaras dan menyatu dengan alam. Mencari ketenangan, belajar, memahami, sehingga dari pariwisata, dampak positif bisa maksimal dirasakan.

Nah, kamu ketika liburan masih sering pakai paradigma pariwisata yang dulu atau sekarang nih? Udah gak jaman menjadi keren karena sudah bisa menaklukkan alam, jadilah selaras dengan alam, dan alam akan kembali berselaras dengan manusia.

“Be a responsible traveler! Your actions matter! #Tourism is much more than travel”

Yaps, pariwisata tidak hanya tentang jalan-jalan, traveling, NO!

Pariwisata berkembang dan berbanding lurus dengan dampak negatif yang dihasilkannya. Kerusakan lingkungan, budaya yang berubah, ekonomi yang negatif. Kenapa? Karena pariwisata yang dilakukan wisatawan hanya sebatas traveling. Itu sangat merusak.

Terus? Ya kalau kamu berwisata, jangan sekedar datang, foto-foto, dan pulang, itulah traveling, level terendah dari berwisata, merusak.

Selanjutnya, kamu dituntut harus EXPLORE, agar daya tarik wisata yg kamu kunjungi tidak mendapat titik beban terberat dari kegiatan wisata. Explore-lah budaya, kulinernya, alamnya, perluas kegiatanmu.

Setelah itu, EMBRACE. Secara harafiah artinya memeluk, tetapi di sini, kamu diharapkan berinteraksi dengan dekat dengan penduduk lokal, dengan alamnya, dengan budaya, sehingga terbangun hubungan yang sangat dekat.

Dari Situ, LEARN, Belajarlah dari interaksi yang dekat tersebut, belajar tentang sistem budaya, humanisme, kebaikan, konsep hidup, dan segala yang positif.

Terakhir, LIFE. Dari perjalanan wisatamu, travel, explore, embrace, learn, jadikan itu menjadi tuntunan untuk menjadikan hidupmu lebih baik lagi.

Kalau kamu melakukan pariwisata secara lengkap, kemungkinan dampak negatif dari pariwisata bisa dihindarkan. dan overtourism bisa sedikit dihindari.

Saran bagi pemerintah?

Banyak banget, bisa jadi satu artikel sendiri. kapan kapan saja. 🙂

 

Salam pariwisata.

 

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments