You are here
Home > JALAN JALAN > Mengenal Tradisi Masyarakat Trunyan dalam Menghormati Jenazah, Hanya Buat Kamu yang Nyalinya Sisa-sisa

Mengenal Tradisi Masyarakat Trunyan dalam Menghormati Jenazah, Hanya Buat Kamu yang Nyalinya Sisa-sisa

Pernah dengar tentang pemakanam masyarakat suku Dayak? Suku di papua yang dimumikan, di Bali yang di kremasi atau dibakar, atau di Tana Toraja yang mengagumkan? Itulah khasanah budaya indonesia yang luhur tak ternilai.

Selanjutnya, apa kamu sudah dengar tentang Trunyan atau Terunyan? sebuah desa di Bali, dekat dengan Danau Batur yang mempunyai tradisi pasca meninggalnya manusia yang unik, nggak kalah dengan di Toraja atau di Papua. Apa keunikannya? yuk liat.

Terunyan adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Terunyan terletak di dekat Danau Batur.

The Bali Aga village of Trunyan across Lake Batur
Desa Trunyan. Sumber: https://www.flickr.com/photos/29204155@N08/10640845943/

Desa Trunyan memiliki tradisi unik yang dilakukan masyarakat setempat sejak dulu hingga sekarang, yakni menguburkan jenazah dengan cara dibaringkan di atas tanah yang disebut Sema Wayah.

Dilakukan oleh penerus darah keturunan Bali Aga di Desa Trunyan. Orang yang meninggal bukan dimakamkan atau dibakar, melainkan dibiarkan hingga membusuk di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang.

Tak jauh dari tempat mayat dan tengkorak berjejer, terdapat pohon besar yang disebut pohon “Taru Menyan” menyapa di pintu masuk utama. “Taru” berarti pohon dan “menyan” artinya wangi.

Pengunjung, baik lokal maupun mancanegara, bebas mengambil foto dari tempat tengkorak dibaringkan. Di sekitar sini, akan banyak tulang belulang yang tanpa sengaja bisa terinjak oleh kaki saat asyik mengamati sekeliling kuburan.

Melangkah lebih dalam, ada sembilan tempat meletakkan jenazah berjajar rapi. Usia dan kondisi mayat beragam. Semua bergantung pada masa kematian jenazah.

Jika pas kebetulan, pengunjung bisa mendapati secara nyata kondisi mayat dalam keadaan utuh bersebelahan dengan kondisi mayat yang telah menjadi tengkorak.

IMG_3011 - Version 2
Masyarakat Trunyan. https://www.flickr.com/photos/ijsseldijk/8710980430

Di sini, tidak semua mayat yang bisa dikuburkan di Sema Wayah, Desa Trunyan. Sema Wayah hanya diperuntukkan bagi orang yang meninggal secara wajar, telah berumah tangga, bujangan, dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal.

The Bali Aga village of Trunyan across Lake Batur

Untuk menjangkau Desa Trunyan, pengunjung bisa melalui akses jalur darat berjarak sekitar 45 menit dari Panelokan, atau pengunjung juga dapat melalui akses dermaga di Kedisan dengan menggunakan boat yang telah disiapkan.

Untuk menjangkau kuburan Trunyan atau Sema Wayah, pengunjung dapat melalui dua cara, yakni lewat Pelabuhan Kedisan dan lewat Desa Trunyan.

Apabila lewat Desa Trunyan, pengunjung hanya menjangkau sekitar 15 menit perjalanan boat menyusuri pinggir Danau Batur. Jika lewat dermaga, pengunjung bisa menempuh perjalanan boat sekitar 45 menit menyeberangi Danau Batur.

Berkunjung ke Trunyan bisa dijadikan satu paket tur ketika kamu sedang berkunjung ke Kintamani dan Danau Batur. Kesibukan masyarakat mencari ikan dan mengurus keramba ikan adalah pekerjaan sehari-hari penduduk lokal di sana.

Lake Batur
Danau Batur. Source: https://www.flickr.com/photos/asitrac/12898105484

Kalau kamu main ke Trunyan, sempatkan juga berinteraksi dengan masyarakat lokalnya yang ramah.

Berkunjung ke rumah masyarakat setempatpun adalah pengalaman yang tak terlupakan, yang terpenting, tetaplah sopan dan menghargai masyarakat lokal.

 

Special thanks to Yusuf IJsseldijk for great photos.

Sumber

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments

2 thoughts on “Mengenal Tradisi Masyarakat Trunyan dalam Menghormati Jenazah, Hanya Buat Kamu yang Nyalinya Sisa-sisa

Leave a Reply

Top