You are here
Home > NULIS NULIS > Kenapa Instagram Adalah Kunci Untuk Memahami Wisatawan Milenial?

Kenapa Instagram Adalah Kunci Untuk Memahami Wisatawan Milenial?

Ketika LinkedIn terus menjadi penyedia layanan untuk berbagi pengalaman profesional, twitter terus maju dengan micro blog nya yang mengajak untuk twit-war, facebook untuk mainan orang tua yang bahagia banget karena akhirnya bisa reunian sama teman SD-nya, maka generasi millenial memiliki Instagram untuk menciptakan brand sosial mereka.

Merapikan feed instagram adalah sebuah seni, menghabiskan banyak waktu untuk mengedit, memberikan efek-efek maksimal, memberikan emotikon, tag lokasi, dan menyisipkan kata kata indah adalah mainan yang seru bagi milenial.

Instagram merupakan branding para milenial, dan geo-tagging adalah kartu pos yang akan mereka banggakan ke seantero jagat raya.

Baca juga:

Dibalik Foto Instagram Cewek Yang Keren, Selalu Ada Lelaki Yang Terjajah

Akun Instagram Yang Wajib Kamu Follow Ketika Liburan Di Jogja

Foto bisa berbicara lebih dari seribu kata.

Milenial mempunyai keyakinan penuh bahwa sebuah foto bisa berbicara seribu kata. Ditambah menggunakan cerita pendek untuk menceritakan kisah traveling mereka, atau kata-kata bijak adalah sebuah jurnal dari keindahan di fase hidup mereka. Selanjutnya, membagikan pengalaman liburan mereka ke instagram adalah visi terbesar kaum milenial.

Milenial tahu bahwa traveling adalah sebuah pengakuan dari kualitas yang patut ditiru, dan menggunakan media sosial instagram adalah pelengkap yang hakiki untuk memperkaya petualangan mereka. Selanjutnya milenial berharap sepenuhnya bahwa mereka bisa diikuti oleh follower mereka, yang akan menaikan nilai dari jati diri mereka ke level maha dewa.

Love di Instagram adalah mata uang baru yang harus diperjuangkan.

Julius_Silver / Pixabay

Di zaman sekarang ini, “love” di instagram adalah mata uang baru yang menjadi persetujuan dan status sosial para milenial. Ketika liburan, menemukan spot maha indah, difoto, dari berbagai sudut tanpa mengerti pakem fotografi, mengganti-ganti foreground dan background secara suka-suka, menyedikan berbagai outfit dengan segala aksesorisnya yang mengalahkan model, ini adalah harga yang harus didapatkan dengan mata uang baru tadi.

Tidak seperti Facebook, di mana orang cenderung mengunggah album di akhir liburan mereka, ketika telah sampai di rumah – langsung upload alldari foto liburan mereka, dan cenderung flat! membosankan, an membabibuta.

Instagram menawarkan kepuasan langsung untuk berbagi gambar beberapa saat setelah mengambilnya, story, live, dan posting. Kemudian mendapat “love” dan komen adalah sebuah visi utama untuk membentuk brand sosial.

Milenial lebih memilih traveling dari pada menabung untuk membeli rumah.

Generasi milenial didorong oleh nafsu traveling dan memprioritaskan pengalaman pribadi diatas harta benda, dan tren ini akan terus berlanjut. Dalam sebuah survei oleh Boston Consulting Group, 70% dari generasi milenium mengungkapkan keinginan untuk mengunjungi setiap benua, traveling ke mana saja, dibandingkan dengan hanya 48% non-milenium.

Milenial lebih memilih kepuasan dari pengalaman jalan-jalan dibanding memiliki rumah atau mobil.

Instagram adalah pemandu wisata yang sexi.

JanBaby / Pixabay

 

Faktanya, 95 juta gambar dan video yang dibagikan setiap hari oleh lebih dari 800 juta pengguna aktif instagram, 55% di antaranya berusia antara 18 dan 29 tahun, ya mereka, kaum milenial.

Instagram adalah sumber inspirasi utama, mempengaruhi keputusan perjalanan para milenial, dan bahkan bertindak sebagai pemandu perjalanan wisata mereka. Tanda pagar adalah kata kunci pembimbing mereka.

Terlepas benar atau tidak infonya, milenial percaya bahwa foto di Instagram memberikan wawasan yang lebih nyata dan sexi daripada brosur wisata buatan Dinas Pariwisata Provinsi atau Kabupaten/kota yang basi banget! (camkan ini wahai kepala dinas pariwisata di seluruh Indonesia).

Instagramable adalah kiblat berwisata kaum milenial.

Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa lebih dari 40% dari mereka yang berusia di bawah 33 tahun menganggap “Instagramable” adalah kata kunci ketika memilih tujuan liburan.

Restoran, bar, hotel, tempat nongkrong, atraksi wisata, lorong, jalan, gang, jembatan, kampung kumuh, semuanya disulap menjadi sesuatu yang instagramable.

Ini artinya adalah bahwa semua yang menjadi tujuan wisata saat ini perlu memikirkan bagaimana cara mengakomodir Instagram dalam strategi pemasaran mereka.

Pada tahun 2015, kota kecil Wanaka di Selandia Baru mulai mengundang “influencer” media sosial untuk memposting tentang pengalaman mereka di sana. Hasilnya: pertumbuhan pariwisata tercepat di negara itu, dengan peningkatan 14%. Wow!

Akan menjadi malapetaka ketika destinasi wisata tidak siap menerima luapan kaum milenial.

Selanjutnya, banyak yang akan menjadi pekerjaan rumah jika tempat tersebut menjadi kiblat berwisata selanjutnya. Destinasi harus cerdas, dan secara strategis harus mempertimbangkan bagaimana mereka dapat menghasilkan pertumbuhan dan dampak positif dari pekerjaan baru warga lokal ini.

Dari perjalanan para pemburu “love” ini pengelola pariwisata harus bisa memadu-padankan dan mengarahkan mata mereka ke  warisan alam dan budaya yang memberikan lebih banyak manfaat ke sosial budaya masyaarakat lokal.

Wisatawan juga harus cerdas!

StartupStockPhotos / Pixabay

Wisatawan juga harus cerdas. Jangan dibutakan oleh ankara-murka untuk mengejar mati-matian menjadi hits. Ada banyak kasus kecelakaan yang dilakukan oleh wis-tolyang mengambil risiko berlebihan dan melakukan aksi berbahaya untuk mengambil gambar yang sempurna. Wisatawan harus berwisata dengan membawa serta isi kepala.

Instagram? mulailah dari kamu.

Melalui berbagi pengalaman terkeren, “influencer” mulai bermunculan. Selain berbagi cerita pribadi mereka, influencerInstagram juga memiliki potensi untuk menarik perhatian yang lebih luas terhadap tantangan sosial dan lingkungan yang penting ketika muncul. Pada akhirnya bisa menciptakan sesatu inovasi untuk kemajuan peradapan budaya manusia yang berwisata dengan cerdas.

Terakhir, ketika kamu berpikir tentang kemana travelingmu berikutnya, apakah kamu akan beralih ke Instagram untuk mendapatkan inspirasi maha inspiratif? biarkan proses menjadi gurumu.

 

Sumber: World Economic Forum

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments