You are here
Home > NULIS NULIS > Kalimat yang sering buat kami anak pariwisata selalu menarik nafas dalam sambil mengelus dada.

Kalimat yang sering buat kami anak pariwisata selalu menarik nafas dalam sambil mengelus dada.

Anak pariwisata dan segala kepelikkan kuliahnya yang sedikit tersisihkan dibanding dengan jurusan lain ternyata masih memiliki kegaduhan hati ketika mendalami kuliahnya ketika kembali masuk ke sosial.

Percakapan dari orang lain, celotehan mereka kadang bisa membuat anak pariwisata yang jiwanya sudah menjadi insan pariwisata itu gregetan, menarik nafas, dan mengelus dada sendiri.

Banyak celotehan mereka yang membuat kita gak tenang, kira kira apa aja? cekidot.

More: Mitos kuliah pariwisata

“Eh, lewat jalan sini aja kitanya, biar gak bayar retribusi”

Walau kadang kalimat ini sering diucapkan anak pariwisata, tetapi kalau anak pariwisata yang sudah benar benar menjiwai, pasti akan gregetan mendengar kalimat barusan.

Duh, paling berapa sih bayar retribusi di objek dan daya tarik wisata? lagian itu untuk pengembangan objek dan daya tarik wisata itu biar semakin baik dalam memberikan pelayanan.

“Udah, buang sini aja sampahnya, gak ada yang lihat juga koq, lagian tempat sampahnya gak ada”

Ini sih sebenarnya gak cuma buat kami tarik nafas, tapi seperti pengen menempelkan telapak sepatu ke bagian yang bisa bicara itu dengan kecepatan maksimal.

Dari SD, SMP, SMA, bahkan kuliah, belasan tahun, dan masih suka buang sampah sembarangan? bukan sudah belajar apa sih selama ini? tetapi itu isi tempurung di kepala apa ya?

“Ih, keren banget, aku pengen juga dong foto di atas stupa candi itu dong”

Nah ini nih yang kadang sering kita dengar, para pengejar eksistensi sehingga akal sehat tidak terpakai.

Bagian manapun candi itu bukan untuk ajang panjat memanjat dan kemudian foto-foto di atasnya, tetapi semakin gak boleh semakin menantang bagi anak hits.

rawpixel / Pixabay

“Kalau gue maen ke Jogja, lu cariin aku hotel ama temenin jalan-jalan yah, lu kan kuliah pariwisata, pasti tau semuanya”

Sebenarnya awalnya bangga, karena eksistensi anak pariwisata mulai terakui di dunia perkuliahan di negara ini.

Tetapi, yang kedua mulai menjengkelkan, ia sih kami kuliah pariwisata, tetapi bukan berarti semua hotel atau objek wisata kita tahu.
Ya akhirnya kami pahami, karena mereka mungkin masih awam tentang pariwisata

“Aku pengen bawa pulang terumbu karang ini, biar di pasang di akuarium rumah”

Satu lagi kebodohan wisatawan yang sering muncul, pengen bawa pulang apapun yang dia temuin di objek dan daya tarik wisata, termasuk terumbu karang.

Lah, dikira terumbu karang itu daun pepaya? bisa di ambis sesuka hati dan dibawa ke rumah? kayaknya ini anak harus mengulang sekolah dari SD lagi deh.

“Kalau kamu besok naik ke Rinjani, aku nitip bungan edelweis yah, mau tak kasih ke pacarku”

Sama seperti yang di atas, ini kebodohan selanjutnya yang sering banget terucap dari para pendaki pemula. Kasiannya mereka tidak pernah liburan.

arnoldus / Pixabay

“Ngapain libur di Indonesia, gak keren! kerenan tuh liburan ke ki-el, atau Singapura”

Ini tipikal anak kekinian yang selalu bolos kalau sekolah. Mau kelihatan kaya karena bisa liburan ke luar negeri? yakin? kamu bisa empat kali bolak balik Jakarta-Kualalumpur, belum tentu bisa sekali main ke Raja ampat. Kamu bisa foto di Merlion singapura gak akan sekeren bisa foto di 0km di Sabang, NAD.

Mau kelihatan keren? bisa foto di twin tower? batu cave? lebih bangga sih bisa foto di bunaken, Wakatobi, atau di Padang.

“Kamu kerja di hotel kan? bagi voucher kamar dong, atau minta diskon lah, ya ya yaa”

Kalau kami ownernya mungkin gak cuma kamar, makan sepuasnya pus berani. Lah, kami ini masih karyawan, dan kami belum jadi siapa-siapa sini, mohon mengertilah sedikit.
Tamu gak banyak saja kamu mulai deg-degan karena service-nya pasti dapet dikit. 🙁

“Gue paling males kalau liburan ke pantai itu tuh panasnya, ntar gosong kulit gue ni”

Ya ela dek, mending sini maen sama kaka di kos-kosan, gak bakal gosong.

Kadang absurd deh, pengen ke pantai, tetapi gak mau gosong, akhirnya pake helm full face ke pantai, lah konsep hidupnya harus dikaji ulang ini.

“Foto lagi dong, foto lagi dong, ini belum keren untuk di pasang di instagram”

Kadang sih gak mau ngurusin orang lain, tetapi kita yang kuliah di pariwisata tahu, kalau motivasi terendah dari berwisata itu adalah untuk sesuatu eksternal atau diluar dirinya. Jadi, kita kadang gregetan, kalau cuma mau foto, memakai aplikasi editing foto saja, kamu bisa mendapatkan foto liburan di mana saja.

Foto-foto memang gak masalah, tetapi kalau ke objek dan daya tarik wisata hanya foto-foto tanpa berinteraksi dengan alam, budaya, dan masnyarakatnya ya mending di rumah saja.

“Liburannya ke sini aja, keren, deket, trus gak pake bayar lagi” (Sambil menunjukan foto di sosial media)

Memilih tempat liburan itu harus sesuai dengan karakteristik wisatawannya, bukan karena ikut-ikutan atau biar kelihatan keren. Pernah kan pulang liburan kamu malah capek, tambah stres, dan duit habis? kenapa? karena karakteristikmu (wisatawan) tidak sesuai dengan karakteristik berwisatamu.

Dari kegiatan wisata yang ikut-ikutan inilah yang membut dampak negatif dari pariwisata semakin besar.

“Bedanya wisata alam sama naik naik gunung itu dimana sih? kan sama-sama ke alam, koq malah naik gunung jadi minat khusus?”

Sederhana sih jawabannya, “makanya, kuliah pariwisata biar ngerti, biar bisa sambil jalan-jalan”

Nah, kamu gregetan gak? kalau gak ya maaf, kami salah 🙁

 

 

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments

Leave a Reply

Top