You are here
Home > NULIS NULIS > Jogja Istimewa, Masihkah Kau Milik Kami? atau Mereka?

Jogja Istimewa, Masihkah Kau Milik Kami? atau Mereka?

Paradigma yang mengatakan dan menyatakan Jogja itu Istimewa memang telah mengakar ke setiap sela fikiran masyarakat, walau mungkin hanya sebatas “branding” yang dibuat di beberapa waktu kemarin.

Apakah memang branding yang di buat itu didasarkan kepada Jogja yang istimewa atau yang bagaimana? atau “istimewa” dan “istimewa” yang dibentuk dan terbentuk itu berbeda?

Apakah “istimewa” yang dimaksud adalah Jogja itu adalah kota yg enak untuk ditinggali, nyaman, apa-apa murah, banyak tempat wisata, berbudaya, banyak pelajar, wisatawan hilir mudik, ada malioboro, ada gudeg, ada batik, kerajinan tangan dan sekian keistimewaan lainnya,

Atau “Istimewa” karena sekarang banyak hotel, banyak mall, apartemen, semakin macet, polusi bertambah, mau nonton kegiatan budaya harus bayar mahal, hedonis berkembang cepat, para kapitalis semakin berkuasa, dan segala kenyataan empiris yang terlihat.

TUGU JOGJA & PEMBANGUNAN HOTEL
Sumber: https://www.flickr.com/photos/aribask200/11973963156

Memang Jogja harus bergerak, maju kedepan, selalu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Tetapi apakah harus dilakukan dengan cara yang seperti ini?

Dilihat dari trend-nya, respon yang diberikan manyarakat Jogja terhadap perkembangan pariwisata ini memang sudah pada tahap tertinggi, tahap ke empat, yaitu antagonism, dimana masyarakat mulai mengkritik perkembangan kepariwisataan yang menjadikan warga lokal kehilangan “tempat” tradisionalnya, dan masyarakat cenderung menyalahkan pariwisata sebagai penyebab semua ini, dan mulai melakukan bentuk perlawanan terhadap pariwisata melalui media massa.

Kasus ini terjadi hampir diseluruh Destinasi wisata yang telah berkembang maju. Contohnya di Bali yang juga sudah melewati fase ini dengan #tolakreklamasi yang digaungkan oleh SID.

Di beberapa daerah mungkin masih di tahap euforia atau senang dengan adanya pariwisata, baru suka dengan adanya pariwisata karena bisa mendatangkan uang secara cepat, atau pada tahap kedua, yaitu apathy, dimana sudah mulai muncul kejenuhan terhadap aktifitas pariwisata yang seperti itu-itu saja, atau ada yang di tahap ketiga, yaitu irritation, dimana pada perkembangannya, pariwisata sudah tidak berjalan susuai sebagaimana harusnya.

Tetapi dilihat dari peliknya masalah keistimewaan di Jogja ini, apakah Istimewa yang dimaksud oleh Jogja adalah yang seperti ini?

1. Orang mulai tumpah ruang datang ke Jogja, jogja jadi macet, padahal jogja itu kota kecil jalanannya cuma segitu itu saja, sedangkan mall, apartemen, dan hotel tumbuh seperti tak ada yang mengkontrol.

2. Orang-orang kaya beli mobil seperti beli kacang goreng.

3. Mana yang katanya orang Jogja itu berbudaya, santun? di jalan-jalan raya banyak yang ugal-ugalan juga tuh.

4. Mana katanya Jogja kota pelajar, event yang dilakukan pelajar bisa dihitung dengan jari di tangan kiri saja.

5. Mahasiswa yang dulu sering beradu fikir di kampus-kampus kini pindah nongkrong di cafe untuk pamer menu makanan yang dipesannya ke sosial media.

6. Mahasiswanya lebih nyaman nongkrong di Mall atau bioskop dari pada membuat seminar mengkaji suatu fenomena.

7. Jogja yang nyaman? masih berani pulang malam-malam sekarang?

8. Trans jogja yang dikontrol pemerintah saja asapnya mengalahkan bahaya rokok, hitam pekat!

9. Bus Pariwisata yang semakin menambah ruwetnya jalan-jalan kecil di kota ini.

10. Semangat Hamemayu Hayuning Bhawana, dengan berbagai kebijakan nyata yang melindungi seluruh warganya secara jasmani dan rohani mulai memudar.

11. Jogja yang sederhana berubah menjadi jogja yg “sok” metropolis. Istimewa sekali.

12. Contoh “istimewa” diantaranya, nonton orang jualan karya seni saja bayar 50ribu, mengalahkan tiket masuk candi. Dihargai tidak harus dengan uang loh. Sudah industrial.

13. Bergeser pelan ke para tukang becak dan andong di Malioboro yang (beberapa) mulai “nakal” memberikan tarif ke wisatawan.

14. Malioboro itu masih Istimewa? sampah, kotoran, limbah, macet, semrawut, belum copetnya, atau pengamennya yang kadang sudah gak seasik lagunya KLA Project.

15. Beberapa objek wisata yang sudah industrial, mementingkan keuntungan finansial dari pada kenyamanan wisatawan.

16. Katanya kota budaya, orang datang bingung mana acara kebudayaannya? Sangat sepi, cuma ada gebyar seremoni tahunan, tak muncul acara kesenian gratisan tiap malam.

17. Perlahan jogja yg murah merangkak menjadi jogja yang “dijual”. Sangat Istimewa.

18. Ketenangan dan kenyamanan jogja yang didagangkan ke investor.

19. Parahnya, yang tambah kaya bukan orang asli jogja, itu investor sebagian besar dari luar Jogja. Penduduk jogja cuma jadi penonton dan korban. Sungguh Istimewa.

20. Disetiap sudut kota ketika sebulan saja tidak dilewati, pasti kaget, karena sudah ada bangunan tinggi lagi disana, entah hotel, apartemen, atau apalah.

21. Ruang publik mana yang bertambah di Jogja beberapa tahun terakhir? Istimewa itu kalau ruang publik sempit ya?

22. Belum lagi ketersediaan air tanah yang kedepannya jadinya bagaimana.

23. Tak salah kalau orang mulai berkomentar “Jogja sudah tak lagi berhati nyaman, namun berhenti nyaman”

Mungkin itu artiIstimewa” yang dimaksud.

 

jogja istimewa
Sumber: https://www.flickr.com/photos/feedyourhead_pl/6877441428

 

 

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments