You are here
Home > JALAN JALAN > Jika Hal Ini Terjadi Pada Liburanmu, Berarti Liburanmu Harus Dikaji Ulang.

Jika Hal Ini Terjadi Pada Liburanmu, Berarti Liburanmu Harus Dikaji Ulang.

Banyak hal yang bisa terjadi ketika kamu liburan, mulai dari yang biasa saja sampai yang di luar kebiasaan. Ada yang mengenangkan, menyenangkan, sampai menyamankan.

Tetapi tentunya ada beberapa hal yang sedikit mengganggu liburanmu. Nah, kita bakal ngasih beberapa hal yang ketika ini terjadi diliburanmu, konsep liburanmu harus dikaji ulang, karena mungkin itu bukan liburan, tetapi hanya kegiatan biasa, tak ubahnya dari kamar tidur ke kamar mandi saja.

Liat yuk, dan semoga bisa menginspirasi.

1. Khawatir berlebihan.

there's no need to worry this is just a vacation
https://www.flickr.com/photos/thirddesign/

Liburan itu bukan seperti di kantor yang ketat dengan aturan-aturan yang membuatmu terkekang. Tak usah khawatir berlebihan dengan liburanmu, itu akan membuat liburanmu biasa-biasa saja, bahkan bisa tak berkesan.

Liburan adalah dimana kamu bisa keluar dari keterkekangan, menjadi dirimu yang lain bukan seperti biasanya. Meluapkan segala emosi yang tertahan, menghabiskan stok adrenalin yang kamu punya, menakhlukan apa yang disebut dengan ketakutan.

Akan banyak pengalaman di sana jika kamu berani keluar dari emosimu yang biasa biasa saja. Jadi, janganlah khawatir berlebihan, karena tidak ada cerita indah dari kegiatan yang biasa-biasa saja.

2. Terburu-buru.

Alice in Wonderland: White Rabbit - No Time to Say Hello, Goodbye...
https://www.flickr.com/photos/brandoncwarren/

“Slow kayak di pulau, santai kayak di pantai, asik kayak di tasik”

Hey, ini liburan, tugasmu hanya untuk menikmati setiap detik yang kamu lewatkan, sudah cukup delapan jam sehari, 40 jam seminggu kamu tak bisa menikmati setiap detikmu.

Ketika di pantai menikmati sunset, santailah, tarik nafas dalam dalam, rasakan semilirnya angin, panasnya sang surya mengigitmu. Ini suasana yang butuh perjuangan panjangmu untuk bisa menikmatinya.

Menabung bulanan, menyisihkan kepentingan lain, dan mengorbankan beberapa hal lain. Ketika kamu menikmati dengan sangat liburanmu, kamu tidak sedang melakukan hal yang sia sia.

3. Hanya jalan jalan saja.

Travel
https://www.flickr.com/photos/vasnic64/

Level terendah menikmati kegiatan liburan adalah “Travel“, hanya datang jalan jalan ke objek wisata, dan pulang.

Eksplorlah daerah tersebut, lihat lingkungannya, budayanya, dan masyarakatnya.

Selanjutnya embrace, atau secara harafiah berarti berpelukan, artinya berinteraksilah secara dekat dengan lingkungan, budaya dan masyarakatnya, belajar menari mungkin, atau ngobrol dengan masyarakat di situ, selanjutnya belajarlah dari kehidupan mereka, tentang apa saja, dan dari sana kamu bisa menerima sesuatu untuk bekalmu menjalani hidup, Travel, Exlore, Embrace, Learn, Life. (Kayak tag-line nya web site ini ya?)

4. Pelit!

Money in Mouth
https://www.flickr.com/photos/76657755@N04/

Pelit dan hemat itu beda tipis. Agar tidak mengeluarkan banyak uang ketika liburan, kamu memilih menginap di hotel murah yang sedikit jauh dari objek wisata yang kamu kunjungi, alhasil kamu kerepotan ketika ingin kemana-mana, bahkan ke objek wisata  yang akan kamu kunjungi. Itu bisa dinamakan pelit.

Sedikit lebih mahal hotelnya, tetapi kamu bisa menikmati objek wisatanya dengan enak, bisa menikmati atmosfir kotanya, dan tidak butuh biaya lagi untuk transportasi.

5. Masih Rempong ngurusin pakaian yang harus dikenakan.

neourban hipster fashion travel
https://www.flickr.com/photos/markusspiske/

Ini bukan tentang gender, walaupun kecenderungannya sudah mengarah ke satu gender, ini tentang pola fikir yang menggantukan kebahagiaan ke orang di eksternal sana. Jadilah dirimu sendiri, senyaman mungkin. Dengan celana pendek, kaos, topi dan sepatu sudah sangat cukup.

Ketika otakmu masih berkubang di urusan pakaian apa yang kamu pakai ketika liburan, pulanglah, ketemulah designer fashion, dan bicarakanlah itu di rumahmu, otakmu belum siap mencerna indahnya pantai Pink, Gunung Bromo, atau Danau Toba.

6. Terlalu sibuk dengan getjet.

Symphony of Love Many travel the world looking for beauty, not realising that beauty is first found within
https://www.flickr.com/photos/pictoquotes/

Ini sudah masuk ke kategori penyakit ter-akut dalam liburan. Bukan tidak boleh memegang getjet, boleh boleh saja, bahkan sangat boleh. Tetapi kalau terlalu menggantungkan, itu sudah mengindikasikan kalau liburanmu tidak sehat.

Jalan sebentar, foto lagi, baru sampai objek wisata, check in di path, jalan lagi, twit pict, pindah tempat lagi foto untuk instagram.

Sekali lagi, tak ada aturan yang melarang, tetapi jika terlalu tergantung dengan gatjet, esensi liburanmu dimana? keindahan itu bukan semata yang kamu lihat di objek wisata, tetapi adakah keindahan yang tercipta dihatimu ketika berlibur ke suatu objek wisata? jika tidak, you’re fail!

7. Menetapkan tujuan sebagai poin terpentingnya.

welcome
https://www.flickr.com/photos/libbyandnicki/

Kadang bagian terpenting itu adalah perjalanannya, bukan tujuannya. Hernan Cortes, merupakan penjelajah dari Spanyol (1485-1547) dia terobsesi untuk menemukan dunia baru, masih usia 18 tahun dia sudah menjelajah sampai ke kuba, beliau berkata

“Aku suka bepergian, dan satu hal yang aku tidak suka: tiba di suatu tempat”

Ketika berlibur, bisa saja separuh waktunya untuk di perjalanan, jadi nikmatilah perjalanan itu, tujuan adalah hasil dari proses perjalanan yang jauh lebih banyak cerita di dalamnya.

Nikmatilah perjalanannya, dan berterimakasihlah karena sudah sampai di tujuan dengan selamat.

8. Kurang bersyukur.

Marci Shimoff Gratitude is absolutely the way to bring more into your life
https://www.flickr.com/photos/pictoquotes/

“Aku koq cuma bisa liburan di Jogja, hanya di Semarang, hanya di Bandung, temen temen bisa ke Bali, Lombok, Singapura, sampai Jepang”

Stop mengeluh, liburan itu bukan tentang membandingkan dirimu dengan orang lain, liburan itu tentang bagaimana kamu bisa menikmatinya.

Hanya di pantai sepi di Jember, tetapi kamu bisa menikmatinya, itu jauh lebih baik dari pada pantai di Lombok, tetapi gak bisa kamu nikmati.

Membandingkan dengan orang lain itu membuat kamu tak bisa menikmati apa yang bisa kamu capai dengan usahamu sendiri. Bersyukur dan berterima kasihlah ke diri sendiri sudah bisa berlibur dengan usaha sendiri, karena jika kebahagiaanmu masih tergantung dari orang lain, kamu masuk golongan orang yang jarang bahagia.

9. Tidak peka dengan apa yang terjadi di sekitar.

Sedikit cuek mungkin baik, tetapi terlalu individualistis itu berbahaya. Ketika liburan, kamu cuek dengan apa yang terjadi di sekitarmu, itu berarti yang berlibur hanya ragamu, jiwamu masih nyungsep di bawah laci meja kantor.

Ada banyak kemungkinan indah dengan peduli ke orang disekitarmu, bukalah dengan senyuman, selanjutnya percakapan ringan, bertanya asal, bercerita tantang kegiatan umum lainnya.

Jika caranya baik, yakinlah, cerita kalian berdua bisa sampai kemana-mana, bahkan mungkin akan ada saudara baru di situ, teman baru, atau mungkin bisa saling memberi info tentang kegiatan liburanmu, itu jauh lebih mahal dari pada bayar seorang travel consultan.

10. Berfikir bahwa sendiri itu lebih baik.

Alone, with a guitar, in life's difficulties..
https://www.flickr.com/photos/127716031@N02/

Untuk konteks yang lainnya memang sendiri kadang lebih baik, tetapi kalu untuk liburan, berfikir kalau sendiri itu lebih baik sepertinya meragukan.

Liburan itu tentang interaksi, pemenuhan kebutuhanmu sebagai mahluk sosial. Secara default, manusia itu di set-up untuk selalu bersama, bahkan untuk liburan.

Dibalik sisi psikologi dan sosiologi tadi, secara teknis, ketika kamu liburannya sendirian, itu sangat rentan, kamu tak akan tahu apa yang akan terjadi di sana, membawa teman seperjalanan itu akan membuat kita aman dan nyaman.

Lagipula apalah arti indahnya diving di Raja Ampat kalau kamu sendiri yang menikmati, hambar. Never diving alone, or you will die.

11. Berfikir kalau liburan harus mahal, harus ngeluarin duit dan boros.

Keluarga Bahagia
https://www.flickr.com/photos/hkyo79/

“Hakekat berwisata itu adalah bahagia” Prof, Marsono, SU

Liburan harus mahal? ngeluarin duit, boros? bisa ia, bisa tidak. Hakekat berwisata itu adalah bahagia, jika kamu bahagia dengan hal tersebut, lakuin saja, termasuk kalau kebahagiaan itu harus mborong habis belanjaan di toko souvenir.

Tetapi kalau bahagia itu sesederhana ngopi dipinggir pantai sambil gitaran ama temen temenmu gak jauh dari rumah dan hasil dari patungan, lakuin saja.

Karena intinya, selama kamu bahagia, liburanmu sukses, dan bahagia tidak harus dengan bergelimang materi kan? bergelimang sahabat juga bisa buat bahagia.

Sampai di sini, kira kira ada yang harus dikaji ulang? hehehehe…

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments