You are here
Home > NULIS NULIS > Jangan Percaya Travel Blogger Tentang Wisata Murah.

Jangan Percaya Travel Blogger Tentang Wisata Murah.

Kita belum beranjak dari abad introspeksi, masa ketika egoisme merupakan rute favorit menuju hidup bahagia. Kita menghabiskan banyak waktu demi memuaskan keinginan batin, harapan, dan mengejar status-status pribadi.

Kita dengan mudah bertemu pedoman untuk cepat menjadi kaya di rak berisi buku paling laris di toko buku. Cara mudah mewujudkan mimpi semacam itu bahkan menyamar sebagai karya fiksi yang laris dan melahirkan sejumlah penulis kaya. Buku-buku itu menjebak kita dalam pusaran hidup mementingkan diri sendiri.

Intropeksi vs outropeksi.

Era instrospeksi adalah kesalahan, kata seorang pemikir dari Inggris, Roman Krznaric. Abad ke-21 mestinya sudah berubah menjadi era outrospeksi. Kata ‘outrospeksi’, sepertinya, belum ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Introspeksi sering digambarkan sebagai tindakan bercermin, melihat ke dalam diri sendiri. Sementara outrospeksi adalah tindakan keluar dari diri sendiri dan belajar dari kehidupan orang lain. “Empati,” kata Krznaric dalam bukunya The Wonderbox: Curious Histories of How to Live, “adalah seni hidup yang menjadi ciri utama abad outrospeksi.”

Liburan adalah cara terbaik untuk outropeksi.

Liburan adalah fenomena menarik untuk menjelaskan kegagalan abad instrospeksi. Orang-orang melakukan perjalanan wisata untuk bersenang-senang dan melarikan diri dari himpitan rutinitas — juga hidup yang dipenuhi para pengejar mimpi.

Ketiklah kata ‘wisata’ di mesin pencari Google dan Anda akan bertemu dengan tempat-tempat indah, beragam paket liburan, juga agen-agen perjalanan yang siap mengaman-nyamankan suasana hati.

Thomas Cook, pendiri agen wisata yang tersohor sejak abad ke-19 memiliki ide ganjil ihwal perjalanan wisata. Pada 1841, dia mengajak 500 orang mengikuti perjalanan kereta api sejauh 22 mil dari Leicester ke Loughborough. Tujuan perjalanan itu adalah bertemu orang-orang saleh yang akan menceramahi para peserta tur agar bisa terlepas dari pengaruh buruk minuman keras. Idenya bisa jadi bahan tertawaan bagi para pencari kenyamanan wisata sekarang.

Pelajaran dari Cook adalah bahwa liburan bukan ruang untuk bersenang-senang, melainkan kesempatan untuk mempertanyakan nilai-nilai dan seni kehidupan. “To travel is to dispel the mists of fable and clear the mind of prejudice taught from babyhood, and facilitate perfectness of seeing eye to eye,” kata Thomas Cook.

Terinspirasi dari visi Cook, Krznaric mengusulkan liburan yang revolusioner yang dia sebut wisata empati, petualangan menggunakan sepatu orang lain dan belajar melihat dunia dari perspektif mereka.

Wisata empati.

George Orwell seringkali diingat karena dua novelnya yang terkenal, Animal Farm dan 1984. Tidak banyak orang yang tahu, kira-kira 100 tahun setelah Cook memperkenalkan tur anehnya, Orwell melakukan wisata empatinya sendiri.

Sepulang bertugas di Burma sebagai polisi kolonial Inggris, Orwell bertekad mencari arti kehidupan bagi mereka yang tertindas di tepi-tepi pergaulan sosial.

I wanted to submerge myself,” kata George Orwell, “to get right down among the oppressed.”

Orwell mengenakan mantel dan sepatu lusuh seperti gelandangan dan hidup di jalan-jalan sebagai tuna wisma. Kadang dia mengenakan samarannya selama berhari-hari, dan pada saat lain dia menghilang selama berminggu-minggu. Dia sering tidur beralaskan kardus dan membiarkan dirinya tertangkap polisi sehingga bisa merasakan hidup di penjara.

Orwell menuliskan pengalaman yang dia sebut sebagai perjalanan terbesar dalam hidupnya itu dalam buku yang ditolak beberapa penerbit sebelum akhirnya terbit dengan judul Down and Out in Paris and London pada 1933 — dua belas tahun sebelum Animal Farm terbit. Buku tersebut sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Wisata empati membuat Orwell sadar bahwa para gelandangan bukan pemabuk bajingan. Dia menjalin persahabatan dengan mereka dan mengubah pandangannya perihal ketidakadilan. Keluar dari kehidupan normal mengembangkan pikirannya. Selain itu, dia memiliki banyak bahan dan energi untuk menulis karya sastra.

Berwisata adalah perjalanan spiritual.

Kita, Anda dan saya, sebagaimana Orwell, juga bisa melakukan wisata empati dan bisa memulainya hari ini, saat ini. Untuk sementara, lupakanlah tempat-tempat indah di brosur dan majalah wisata. Lupakan foto-foto liburan yang disebarkan teman-teman Anda di Instagram, Facebook, dan Twitter.

Dalam bentuknya yang paling sederhana, kita bisa menciptakan percakapan, bukan sekadar basa-basi soal nama dan pekerjaan, dengan orang yang duduk di dekat kita di angkutan umum atau di mana saja. Kita bisa menyisihkan beberapa menit waktu untuk berbincang mengenai kehidupan keluarga, politik, dan seni dengan tukang becak langganan kita.

Jika merasa sebagai orang religius, tidak salah untuk hadir di layanan agama yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda. Anda bisa bertemu dan membiarkan orang-orang yang selama ini Anda nilai buruk untuk menceritakan diri mereka dari sudut pandang mereka sendiri.

Penting untuk diingat bahwa kita harus bersiap membagi pikiran demi terciptanya pertukaran empati — dan tak meremehkan pengetahuan orang lain mengenai sesuatu hanya karena kita punya gelar akademik dan karir yang lebih baik. Bukankah kita sering melakukan hal semacam itu?

Setelah itu, mungkin kita akan pulang bukan membawa foto-foto indah dan gantungan kunci, tetapi hal yang lebih berharga. Kita mungkin akan merasakan pengalaman yang lebih hebat dibandingkan dengan menaklukkan puncak gunung bersalju atau menemukan air terjun yang tersembunyi di lembah-entah-di-mana.

Akhirnya, pertanyaan kita bukan lagi “Ke negara dan tempat indah mana saya akan pergi selanjutnya?” Pertanyannya mungkin akan berubah menjadi: “Sepatu siapa yang akan saya kenakan selanjutnya?”

Sumber kerennya bisa kamu lihat di sini.

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments

2 thoughts on “Jangan Percaya Travel Blogger Tentang Wisata Murah.

Leave a Reply

Top