You are here
Home > NULIS NULIS > Hey Kamu yang Hanya Ngaku-ngaku Cinta Dengan Pariwisata Indonesia Padahal Tidak, Inikah Kamu?

Hey Kamu yang Hanya Ngaku-ngaku Cinta Dengan Pariwisata Indonesia Padahal Tidak, Inikah Kamu?

http://twicsy.com/i/uyQoig

Sesuatu yang sangat positif memang terlihat pada perkembangan pariwisata Indonesia sekarang ini. Pergerakan wisatawan dari tahun ke tahun semakin besar dari kuantitasnya. Semua golongan lapisan masyarakat sudah menjadikan kegiatan wisata menjadi sesuatu yang integral dalam kehidupannya. Mulai dari anak Taman Kanak-kanak, anak muda, ibu-ibu PKK, kelompok bapak-bapak, orang kantoran, sampai ke wakil rakyat, semuanya suka melakukan kegiatan wisata.

Dibalik bertumbuhnya aktifitas wisatawan tersebut, tentunya muncul berbagai fenomena baru. Fenomena yang berkembang positif dan tentunya juga ke arah yang negatif. Dikatakan positif adalah ketika pergerakan kegiatan wisata itu mengarah kepada tujuan yang sudah ditentukan, dalam hal ini kita bisa liat pada UU no 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan (wuish, kayak dosen aja ngomongnya). Disana dikatakan pada asas fungsi dan tujuan dikembangkan pariwisata salah banyaknya adalah untuk memupuk rasa cinta kepada tanah air, melestarikan alam, lingkungan, menjaga budaya dan memperkukuh jati diri bangsa. Nah, pada perkembangannya, pergerakan kegiatan wisata dalam lingkup wisatawan mulai bergeser dari tujuannya dan akhirnya bisa dikatanan sebagai fenomena yang negatif.

Seberapa banyak wisatawan yang tetap di rel ke tujuan dikembangkan pariwisata? terlepas dari minimnya peran pemerintah tentunya, karena dasarnya tetap ada pada wisatawannya. Di jaman kekinian ini, motivasi wisatawan sangat beragam dan kadang irasional. Dengan gampangnya menasbihkan dirinya adalah wisatawan yang cinta dengan indonesia, dan ada di rel untuk memajukan kepariwisataan Indonesia. Sebenarnya segampang itukah tanggung jawabnya?

Banyak wisatawan yang menganggap apa yang dilakukannya adalah bukti cintanya ke Indonesia, apa iya? kalau kamu masih melakukan beberapa hal ini, kamu masuk golongan hanya ngaku-ngaku cinta Indonesia, padahal tidak. Memang sih ini stereotyping dan prejudice dan labeling dan intersubjektifiti dan apalah itu, tetapi ini didasarkan juga pada pengamatan fenomena yang ada koq, kalau kamu ketawa-ketawa, mungkun kamulah yang padahal tidak tadi.

1. Hanya tahu kalau kamu sedang di suatu objek wisata, tetapi tidak tau tentang objek wisata itu.

2. Lebih sibuk ngurusin gaya liburan dari pada berinteraksi dengan masyarakat lokal.

3. Jika hashtag di Instagram-mu lebih banyak daripada objek wisata yang kamu kunjungi.

4. Atau hanya bangga menggunakan kaos “My Trip My Adventure” atau “Jalan2Man” atau “NG Traveler” tetapi naik gunung tetap buang sampah sembarangan.

5. Bawa DSLR, atau GoPro tetapi masuk objek wisata maunya yang gratisan.

6. Ketika ada objek wisata baru dan kamu langsung ramai-ramai ke sana. Hanya untuk mengejar eksistensi pribadi.

7. Menkorelasikan anak gaul dengan harus traveling ke suatu objek wisata. Sungguh gak harus ke objek wisata tersebut baru bisa gaul, atau sebaliknya.

8. Foto-foto adalah tujuan utama ketika liburan ke sebuah objek wisata.

9. Hidup di negara kepulauan yang lautnya lebih luas dari daratannya, tetapi belum pernah turun ke kedalaman laut melihat cantiknya Indonesia.

10. Atau mengeluh takut gosong ketika diajak liburan ke pulau eksotik, dan snorkeling saharian.

11. Equipment diving made in Italy, Cressi, Mares, atau apapun itu yang harganya bisa untuk beli motor, tetapi karang di laut suka diinjak-injak.

12. Laskar P5, “Para Pendaki Pengejar Photo Profil“.

13. Untuk Clubing, open botle bisa jutaan rupiah, giliran ke Karimun Jawa minta paket wisata paling murah.

14. Protes tentang jeleknya objek wisata di Indonesia bisa semalaman, giliran diajak membersihkan sampah di Gunung Merbabu langsung “mlipir”.

15. Teriak ketika Malaysia maling kebudayaan indonesia paling kenceng, giliran disuruh melestarikan dan menjaga budaya yang ada malah diam.

16. Menjadikan kegiatan wisata sebagai ajang gengsi dengan teman, tetangga, atau orang lain.

17. Masih suka menyalurkan kreatifitas menggambar atau menulis di tembok, dinding, atau batang kayu di objek wisata.

18. Ketika mengunggah foto traveling ke suatu objek wisata di sosmed, tetapi nggak banyak yang “like” atau “love” langsung sedih. Anak traveling nggak sesederhana itu dek.

19. Kamu tahu aturan yang melarang melakukan sesuatu di objek wisata, tetapi itulah alasan terbesarmu untuk melanggar.

20. Lebih bangga makan di makanan cepat saji yang keren dari pada mencicipi makanan lokal yang dijual masyarakat lokal.

21. Masih tega menawar harga kapal untuk tour di Maluku, sementara di China Town Sg, gantingan kunci 2$ SG langsung diembat.

22. Memilih untuk diam ketika melihat wisatawan lain melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan.

23. Bangga sudah pernah ke puluhan atau bahkan ratusan objek wisata, tetapi nggak dapat apa-apa dari perjalannya. Hanya foto-foto.

24. Bio di twitter, BBM, FB IG, adalah Travelers, tetapi fotonya di situ-situ saja, dan frekuansinya juga banyakan selfie di kafe.

25. Cara berfikir kalau liburan itu harus mabok semabok-maboknya. Come on, gak harus selamanya seperti itu guys, banyak hal yang lebih asik lainnya.

26. … dan tidak ada korelasinya berwisata dengan mahal, karena bukan tentang mahal atau murah, tetapi tentang kebutuhanmu.

27. Sangat Sedih memang, mengaku cinta Indonesia tetapi memilih meninggalkan Gunung Bromo, Wakatobi, Borobudur, Komodo, Raja Ampat untuk liburan ke Singapura. Maaf ya, Kamu bisa liburan berkali-kali ke Singapura, tetapi belum tentu bisa maen ke Raja Ampat. Jadi, gak usah sombong gitu.

 

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments