You are here
Home > JALAN JALAN > Hanya untuk yang Bernyali Besar, Kamu Harus Melihat Tradisi Unik Manene di Tana Toraja Ini.

Hanya untuk yang Bernyali Besar, Kamu Harus Melihat Tradisi Unik Manene di Tana Toraja Ini.

toraja
Toraja. Source: https://www.flickr.com/photos/136092741@N07/32394509724/


Salah satu adat masyarakat Tana Toraja untuk menghormati leluhurnya, yakni Ma’nene atau mengganti pakaian jasad leluhurnya.

Pelaksanaan Ma’nene untuk menghormati jenazah para leluhur setelah masa panen selesai di bulan Agustus.

Ritual Ma’nene atau mengganti pakaian mayat sebutan masyarakat Toraja, diawali dengan berkunjung ke lokasi pekuburan leluhur mereka yang dinamakan Patane.

More: Mengenal tradisi di Desa Trunyan Bali Yuk, untuk kamu yang nyalinya sisa-sisa.

Di Patene, mayat leluhur mereka yang telah berumur ratusan tahun tersimpan dalam keadaan utuh, karena sebelumnya diberi bahan pengawet.

Manene
Dokumentasi: Andi Payung Allo.

Prosesi Ma’nene dilakukan pihak keluarga dengan membersihkan mayat leluhur yang telah berusia ratusan tahun, dengan melepas pakaian lama yang digunakan.

Badan mayat dibersihkan dengan menggunakan kuas.

Setelah itu, jenazah dipakaikan baju baru, mayat pria memakai jas lengkap dengan setelan dasi hingga kaca mata.

Manene
Dokumentasi: Andi Payung Allo.

Sebelum membuka pintu kuburan Patane dan mengangkat peti mayat untuk dibersihkan, tokoh adat dengan sebutan Ne’ Tomina Lumba, terlebih dahulu membacakan doa dalam Bahasa Toraja kuno.

Doa untuk memohon izin kepada leluhur agar masyarakat mendapat rahmat keberkahan setiap musim tanam hingga panen berlimpah.

Manene
Dokumentasi: Andi Payung Allo.

Ne’tomina merupakan gelar adat yang diberikan kepada orang yang dituakan juga imam atau pendeta.

Waktu pelaksanaan Ma’nene berdasarkan kesepakatan bersama keluarga dan Ne’tomina melalui Musyawarah Desa.

Ritual itu digelar sekali dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun.

Manene
Dokumentasi: Andi Payung Allo.

Ritual itu juga untuk mempererat silaturrahim sehingga keluarga yang berada diperantauan bisa datang menjenguk orang tua atau Nene To’dolo (nenek moyang).

Prosesi mengganti pakaian satu mayat tidaklah lama, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Usai mengganti pakaian mayat leluhur, masyarakat kampung berkumpul mengikuti acara makan bersama.

Manene
Dokumentasi: Andi Payung Allo.

Makanan yang disajikan adalah hasil sumbangan setiap keluarga keturunan leluhur yang melaksanakan kegiatan prosesi adat Ma’nene.

Usai makan bersama, acara dilanjutkan dengan tradisi Sisemmba, bertujuan menjalin keakraban serta silaturahmi antara keluarga perantau dengan yang berada di kampung halaman.

Kalau masih kurang, kamu bisa lihat video di bawah ini. Kalau masih kurang lagi, kita tunggu kamu di Toraja.

 

Terima kasih kepada Sdr Andi Payung Allo.

Sumber: Tribun Toraja.

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments

Leave a Reply

Top