You are here
Home > NULIS NULIS > Berfikir Jadi Guide itu Enak Banget, Bisa Jalan-jalan Gratis ke Destinasi Keren dan Dibayar, Sepertinya Kamu Belum Mengerti Kami.

Berfikir Jadi Guide itu Enak Banget, Bisa Jalan-jalan Gratis ke Destinasi Keren dan Dibayar, Sepertinya Kamu Belum Mengerti Kami.

Siapa sih yang tak ingin jadi guide atau pemandu wisata? bisa liburan kemana saja, dalam kota sampai luar kota, ke pantai yang indah sampai ke gunung yang keren, ke mana saja yang kadang butuh biaya besar untuk kesana. Pokoknya pergi-pergi terus, dan yang terpenting dan paling keren adalah, itu bisa dilakukan dengan GRATIS, bahkan DIBAYAR. Wow, udah bisa traveling kemana saja, gak bayar, malah dibayar. Kayaknya ini impian keren untuk dipilih.

Impian untuk jadi guide itu akhirnya sudah terbentuk ketika di bangku sekolah, dengan peliknya belajar, akhirnya diputuskan kuliah jurusan pariwisata, kemudian ambil sertifikasi, dan akhirnya, impian itu ada di depan mata. Bermodal ijasah dan sertifikasi pemandu wisata, “selamat datang jalan-jalan, dan datanglah duit kian kemari”

Yakin bisa sesederhana dan seenak itukan menjadi seorang penadu wisata atau guide? Kalau sejauh ini kamu fikir ia, sepertinya kamu kebanyak nonton FTV deh. Pengen tau apa yang dirasakan Guide di dunia nyata? Bukan nakut-nakutin, cuma sedikit berbagi saja sih. cekidot!

More: Barang-barang Ini kelihatannya Keren Dibawa Ketika Liburan, Padahal Tidak.

1. Seorang guide dituntut harus bisa berkomunikasi dengan teramat sangat baik.

Learning about Balinese religion, near Tirtagangga
Bisa berkomunikasi dengan baik.


Jadi pemandu wisata koq di depan tamu malah gagu dan tak bisa berkata-kata? kalaupun bisa, tutur kata dan penyampaiannya-pun dituntut harus sangat baik, dengan perspektif yang luas, menggunakan banyak sudut pandang, karena kadang yang kita anggap baik belum tentu baik bagi wisatawan.

Tamu bisa datang dari budaya yang berbeda, kita tidak bisa menganggap semuanya sama. Komunikasi dengan verbal itu standar, berkomunikasi non verbal seperti senyum, gerakan kepala sampai tangan sangat detail akan kami pelajari, karena itu penyampaian pesan yang universal.

2. Kami dituntut menguasai beberapa bahasa, tidak hanya bahasa Indonesia atau Inggris saja.

With our guide
Mengerti banyak bahasa.

Guide bahasa Indonesia sudah banyak, melayanai tamu nusantara, atau mungkin bahasa Inggris yang lebih internasional. Kalau cuma bermodalkan itu, kedepannya kamu akan tergusur dari mereka yang baru dan lebih baik dalam bekomunikasi bahasa. Jadi, kami harus belajar berapa bahasa dari budaya dan negara lainnya. Masih bilang enak jadi guide?

3. Berwawasan luas itu keharusan, tidak hanya tahu yang disenangi saja.

Nelson, Goncalo, Jim (our guide) and Jose
Harus berwawasan luas.


Tidak hanya objek wisata yang kami paham, budaya setempat atau hal yang kami senangi, kami dituntut harus tahu banyak hal, berwawasan luas. Tentang politik reklamasi teluk benoa harus bisa kami jelaskan ke wisatawan secara objektif tanpa ada “pesan” dari pihak manapun.

Pengetahuan kuliner khas harus bisa kami jelaskan ke wisatawan, mulai filosofi, resep, cara membuat sampai cara mengkonsumsinya. Struktur sosial busaya, jalan yang akan dilewati, pohon yang ada dipinggir jalan, nama bupati, mentri, ketua adat, pakaian tradisional, fasilitas alat transportasi yang digunakan, dan apapun. Kami harus paham dan bisa menjelaskan.

Bayangkan, perjalanan Jogja-Borobudur ketika musim liburan bisa sampai 2 jam, di saat itu kamu harus dituntut tetap bisa memberikan informasi, tentang apa saja yang berhubungan dengan perjalanan wisata itu. Itu baru Jogja-Borobudur, belum pulangnya, dalam sehari berkeliling, kalau kamu hanya paham beberapa hal saja, setelah makan siang kamu sudah kehabisan bahan cerita.

4. Guide bisa menjadi kamus berjalan bagi wisatawan, jadi guru, dosen, atau wikipedia berjalan.

Brian and Fitria
Kami bisa jadi kamus berjalan.

Pertanyaan dari wisatawan itu kadang random-nya gak karu-karuan.

“Pak guide, koq bisa sih pohon-pohon di sini daunnya warna hijau?” “Koq candi Borobudur ini bisa di sini sih, ngangkat batunya bagemana?” “Cara mendirikan keraton tapak siring ini bagaimana ya bli? koq dipanggil bli sih? gak jual aja?” “Itu gudeg itu terbuat dari nangka muda, koq gak dari daun ketela saja sih?” “Ini di sini kenapa bisa banyak pohon bambu begini sih?”

Dan jutaan pertanyaan random lainnya, yang itu bisa absurd, susah dijawab, sampai kadang tuhan-pun tak tau jawabannya. Tetapi semuanya harus kami terima, dengan senyum dan menjelaskan sebisa yang kami ketahui. Di sinilah “the power of mbacot” atau dalam bahasa lainnya “the power of ngeles” akan kami keluarkan sebagai jurus andalan kami, dicampur dengan sedikit jurus mabuk juga sih. 🙂

5. Kami terpaksa harus bisa jadi pelawak, atau komika, melakukan stand-up comedy.

museum guide
Bisa jadi pelawak juga.


Kalaupun kamu bisa menjelaskan dengan baik semua materi, menjawab setiap pertanyaan wisatawan dengan jelas, semuanya akan hambar ketika tidak disisipi dengan joke di dalamnya. Tanpa joke atau lawakan-lawakan di sela cerita, perjalanan itu sama saja seperti kuliah umum, atau ceramah yang membosankan.

“bapak ibu, nanti di perjalanan dari parkiran bis ke objek wisata pasti akan banyak yang jualan tahu sumedang. “Tahu sumedang…. tahu sumedang bu…. tahu sumedang pak…. tahu sumedang teteh…..” Nah, kalau bapak ibu dan adek-adek mau dapat gratis, jawab aja “tahu pak, sumedang ada di Jawab Barat…” nah otomatis bapak ibu dapat sendal gratis, langsung di antar ke wajah, bebas biaya kirim” 🙂

6. Kami akan menjadi sahabat, keluarga, rekan kerja, sampai menjadi anak atau cucu terbaik wisatawan.

Meditasi
Jadi teman bermain juga bisa.

Membawa anak sekolah, SD, TK, atau SMA, kami akan memposisikan sebagai teman terbaik mereka, akan mereka nyaman dengan perjalanan wisatanya. Membawa tamu keluarga, kamipun sangat bisa menjadi saudara terbaik mereka. Menjadi rekan kerja yang profesional itu keharusan bagi kami. Menjadi anak atau cucu ketika kami membawa pensiunan karyawan juga selalu siap telewati dengan senyum, menuntun, menemani, menunjukan arah, bercerita dan mendongeng bagi mereka. Kita strong!

7. Kadang, kami harus siap menjalani peran sebagai apa saja yang tak terduga, tak ada dalam jobdesk guide.

pemandu wisata
Harus siap jadi apa saja.


Kami bisa menjadi photografer dadakan, tiba-tiba menjadi tempat penitipan handphone, tukang jaga bayi, kursus berenang singkat, memberi tutorial packing barang, tukang jaga tas, jadi suporter tim penyemangat, tukang masak sampai menjadi food tester, dan menjadi apa saja yang kami tak duga.

8. Kami selalu berusaha membuat wisatawan tenang walau kadang kami tidak bisa tenang.

On the way down in the crater of Gunung Batur
Menangkan walau kami juga tidak bisa tenang.

Ketika ada trouble di perjalanan, mesin mobil yang tiba-tiba mati di tengah hutan belantara, atau ada masalah ketika pendakian gunung, kami akan berdiri di depan, menjelaskan dan menenangkan wisatawan tentang keadaan yang akan tetap baik-baik saja, walau sebenarnya kamipun tidak bisa tenang karena kami juga masih sama manusia. Tetapi, siapa lagi yang akan menenangkan mereka kalau bukan kami.

9. Pemandu wisata adalah “mulut” destinasi wisata, baik buruknya citra yang terbentuk ada di “mulut” kami.

Kraton Yogyakarta Hadiningrat
Kamu adalah mulut destinasi wisata.


Temen saya adalah seorang international marketing di salah satu perusahaan besar di Yogyakarta, yang membuatnya mempunyai banyak klien dari luar negeri. Pada suatu waktu klien-nya tersebut melakukan perjalanan bisnis ke Jogja dan sekaligus berwisata. Ketika di Jogja, klien temen saya yang dari salah satu negara di timur tengah itu setelah menyelesaikan urusan bisnisnya selanjutnya ingin melakukan kegiatan wisata, berjalan-jalan di seputaran kota Jogja.

Karena menganggap pemandu wisata itu tidak penting, akhirnya tamu dari luar negeri tadi hanya ditemani orang yang hanya sekedar tahu tentang jogja secara sederhanya, intinya menjadi guide itu memberi tahu semua pentanyaan wisatawan dan membawanya ke tempat yang keren, selesai. Akhirnya karena bingung dan ingin aman, iseng-iseng dibawalah tamu itu ke pasar di selatan stasiun tugu yogyakarta #IYKWIM, dan intinya mereka puas di sarkem.

Singkat cerita, karena puas dari pasar selatan stasiun Yogyakarta, diceritakanlah pengalaman membahagiakan itu ke teman-temannya di negara asalnya ketika ia pulang, dan akhirnya dia dengan teman-temannya datang beberapa kali ke Jogja, untuk bisa “main” ke pasar selatan stasiun Tugu Jogja. Akhirnya, dia dan teman-temannya (wisatawan asing tadi) mengatakan bahwa Jogja adalah kota yang keren untuk wisata prostitusi, karena murah dan bagus. Bayangkan, hanya kesalahan satu orang yang memandu wisatawan saja, citra Jogja sebagai kota budaya, pendidikan, dan pariwisata yang dibangun sedemikian rupa, rusak dengan cepat hanya kerena pemandu wisatanya tidak berkompeten. Kamu adalah mulut destiniasi wisata.

10. Itu sebabnya kami harus tersertifikasi, agar bisa memberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan, destinasi dan bagi kami kedepannya.

Cremation Ceremony
Kami harus ditempa luar dan dalam.

Itu sebabnya menjadi guide, kami haus ditempa, diberikan ilmu pengetahuan, wawasan, teknik memandu yang baik dan benar, diberi pelatihan berhari-hari dan terakhir akan diuji kompetensi untuk bisa mendapatkan ijin atau lisensi memandu wisata. Asal kamu tahu, itu tidak gampang.

11. Tidak cukup ijasah dan puluhan lembar sertifikat pelatihan, passion adalah hal yang terpenting.

Iwayan Subiasa
Passionmu lebih penting.


Ketika sudah mendapatkan lisensi guide apakah semuanya jadi langsung mulus? sepertinya belum. Passion kamu akan berbicara banyak di sini, kalau memang hatimu nyaman di profesi ini, terlepas dari banyaknnya tekanan yang datang, yang itu tetap membuatmu bisa berdiri tegar dan tetap tersenyum manis penjalani profesi ini.

12. Fisik dan stamina yang baik menjadi penentu pelayanan terbaik dari kami.

Yogyakarta
Stamina yang kuat adalah penentu.

Passion sudah teramat sangat yakinpun kadang akan sia-sia ketika kesehatan fisik dan staminamu tak seimbang. Berjalan di teriknya matahari, tengah hari, membawa wisatawan, di atas candi borobudur yang panasnya semena-mena. Fisik dan stamina yang tangguh wajib kamu miliki. Tetap fokus, bau badan yang harus tetap fresh, rambut yang harus tetap klimis, pakaian harus terjaga rapi, intonasi bicara yang harus tetap stabil, berjalan tetap tegap, dan senyum menjadi pemanis selalu kami berikan walau sebenarnya kami pengen nangis. 🙁

13. Diabaikan wisatawan ketika sedang bercerita tentang sejarah destinasi wisata itu harus ditelan pelan-pelan.

My personal guide on Bali
Kadang kami terabaikan.


Ketika di bus, setelah makan siang perjalanan dari Kintamani ke Pantai Kuta, kamu mulai bercerita tentang hirarki budaya di Bali, atau bercerita tentang nama masyarakat Bali, kenapa Nyoman, Made, Komang, Ketut, atau Wayan, sudah dipastikan bisa separuh dari wisatawan di bus tersebut akan merasa seperti dinina-bobokan, didongengkan dengan cerita indah, dan akhirnya bisa separuh lebih wisatawan di busmu bobo siang. Alhasil kamu akan bercerita kepada dirimu sendiri, atau beberapa wisatawan di barisan kursi depan yang sok tegar mencerna informasi keren dari kamu. Kamu, harus tetap tersenyum manis bercerita, walau tau itu sia-sia. Sabar bro.

14. Menyisihkan ego sendiri demi lancar dan kerennya liburan wisatawan selalu kami lakukan.

Borobudur
Selalu menyisihkan ego.

Kadang ego kita itu ingin meluap, tertumpah agar semuanya menjadi lega. Tetapi hal tersebut tetap harus kami tahan, menelannya seperti obat cina yang pait. Itu tidak boleh kamu lakukan, karena agomu akan membuat semuanya akan berantakan, dan semakin tak baik. Gondok seharian itu bagian dari kami, kadang.

15. Kadang sindiran sinis, kritik sampai mengajak adu fisik dari wisatawan yang tidak puas juga harus kami terima dengan lapang dada.

P3152592.jpg
Siap menerima kritikan.


Dikritik wisatawan karena dianggap pelayanan kami kurang memuaskan itu pasti terlewati, mendapat sindiran dan cibiran dari rekan kerja juga harus kuat kami terima, sampai ketika ada segerombolan anak SMP yang mencoba menantang adi fisik karena dianggap guidenya terlalu memberi batasan yang mereka anggap terlalu mengekang juga penah kami rasakan.

16. “papaku jadi guru, papaku polisi, ayahku PNS, ibuku pengusaha” anak kami harusnya lebih bangga karena orang tuanya adalah pemandu wisata, harusnya.

Uluwatu Guide Proud of His Heritage
Kami bangga menjadi guide.

Kadang hal ini sedikit mengganggu kami, kami tau profesi ini bukanlah profesi yang menjadi keren dan impian kebanyakan orang, yang bisa dijadikan panutan dan tujuan. Ini awalnya berat, tetapi, keikhlasan kami, dan kesadaran kami, bahwa ini bagian dari ibadah kami, melayanai sesama umat manusia untuk kebaikan, ini adalah hal yang lebih agung dari apapun yang lainnya, membuat kami bangga menjadi pemandu wisata.

17. Meninggalkan keluarga adalah pengorbanan terberat kami, tetapi itu tetap harus kami lakukan.

Tanah-Lot
Meninggalkan keluarga adalah yang terberat.


Salah satu yang terberat adalah harus meninggalkan keluarga. Ketika mendapat tamu dari luar negeri, Eropa atau Amerika, biasanya mereka berlibur di Indonesia dalam waktu yang lama, bisa seminggu, atau lebih, dari Jakarta, Ke Bandung, Jogja, Malang, hingga Bali. Meninggalkan keluarga itu kadang berat, tetapi beban itu harus ada biar kami tahu untuk siapa kami memikul beban ini. Meninggalkan keluarga untuk menambah keluarga lain di luar sana.

18. Ketika yang lain berlibur bersama teman, keluarga, atau teman hidup, kami masih harus tetap tersenyum manis di depan tamu, memberikan pelayanan terbaik.

IMG_3607
Kami jarang liburan walau sering liburan.

Lebih perihnya lagi, ketika waktu liburan datang, kumpul bersama keluarga adalah hal terindah, tetapi semuanya sirna karena di saat itulah waktunya kami “panen raya” dimana wisatawan datang dan jasa kami sangat dibutuhkan. Merelakan anak liburan hanya dengan istri atan neneknya, ditinggalkan teman yang liburan bareng kemping di Merbabu, dan mungkin kekasih hati yang harus tabah terbiasa ditinggalkan. Semuanya untuk kalian koq ini.

19. Menjadi bosan dengan rutinitas adalah hal terberat yang harus kami singkirkan, demi terbentuknya senyum kecil dia yang menunggu kami pulang.

Tour Guides Waiting
Kami juga bisa bosan.


Hingga akhirnya kami akan merasakan titik jenuh dalam menjalaninya. Setiap hari, akhir pekan, liburan, selalu menjalankan rutinitas yang sama. Menceritakan hal yang sama, direspon dengan hal yang sama. Titik jenuh itu cepat atau lambat pasti datang. Passion akan menyelamatkanmu.

20. Yang terpenting bagi kami, keluarga kami bisa tersenyum menyambut kami pulang, dan wisatawan bisa tersenyum ketika mereka pergi pulang.

Tirtagangga: Tour guide's office
Kami punya sejuta senyuman untuk semuanya.

Di beratnya beban ini, kami sadar, ada yang menunggu kami di rumah, menyambut dengan senyum terbuka, dan di sisi lain, ada tamu yang juga tersenyum lebar pergi pulang untuk menyambut hidup yang labih baik. Itu sudah lebih dari cukup.

Bagikan artikel ini ke temanmu.

Comments

comments

Leave a Reply

Top